Seri manajemen resiko kegiatan alam terbuka : Bag 1

Resiko dan Sumber resiko

Kegiatan pramuka merupakan aktifitas yang berbasis pada kegiatan alam terbuka, namun hingga saat ini tidak ditemukan sebuah literatur pramuka manapun di Indonesia tentang penilaian sebuah resiko dan pengelolaannya dalam sebuah kegiatan di alam terbuka. Walaupun menyenangkan, sebenarnya kegiatan alam terbuka cukup berbahaya, karena banyak factor yang turut berperan menciptakan resiko tersebut dibanding dengan kegiatan dalam ruangan ( indoor).

Kegiatan alam terbuka memiliki variasi dan tingkat resiko yang berbeda,selain faktor kegiatan itu sendiri, kondisi alam pada saat pelaksanaan kegiatan memberikan faktor resiko tersendiri. Sebagai contoh, bulan Desember – Januari merupakan bulan dengan curah hujan tinggi di Indonesia. Kegiatan yang memakai sungai sebagai wahana akan memberikan resiko lebih tinggi bila kegiatan tersebut diadakan pada musim panas.

Dalam kegiatan alam terbuka, kerugian yang terjadi pada umumnya dikaitkan dengan ukuran cedera fisik. Bagiamanapun juga resiko yang terjadi pada kegiatan alam terbuka juga memiliki dampak negatif pada sisi mental, sosial, finansial, bisnis, pemasaran dan hubungan personal dengan staf atau petugas dari pihak lain.

Nah sebenarnya apakah resiko tersebut? Apakah resiko = bahaya?

Resiko merupakan sebuah kemungkinan (ukuran) kerugian atau kerusakan yang bisa terjadi. Acuan yang digunakan untuk mengukur resiko adalah kejadian dan efek ( kerugian) yang ditimbulkan. Hal ini dapat disederhanakan dalam bentuk rumus matematika sederhana ;

Resiko : kemungkinan (probabilitas) X konsekuensi (consuquent)

Dengan melihat persamaan di atas maka nilai sebuah resiko dari suatu kegiatan bisa diperoleh. Kenapa resiko harus dinyatakan dengan sebuah nilai, berupa angka? Ada 2 alasan yang mendasari hal tersebut, yang pertama kegiatan alam terbuka memiliki variasi dan tingkat resiko yang berbeda. Hal kedua adalah persepsi individu tentang tingkat resiko dan keberanian bertindak dibentuk oleh pengetahuan, pengalaman dan factor internal individu tersebut. Persepsi inilah yang membuat tiap orang melihat resiko dengan tingkat dalam sebuah kegiatan.  Orang yang sangat berpengalaman dan pandai berenang akan melihat bahwa menyeberang sungai merupakan kegiatan yang beresiko rendah, namun coba tanyakan pada orang yang tidak bisa berenang tentang hal ini. Pasti anda akan mendapat jawaban yang bertolak belakang.

Karena itulah, sudah selayaknya resiko dinilai menggunakan metode ilmiah, tidak berdasarkan factor perorangan sehingga nilai resiko sebuah kegiatan akan memiliki nilai resiko yang sama, baik oleh praktisi, akademisi, pemula bahkan orang yang tidak pernah ikut kegiatan tersebut.

Untuk mendapatkan nilai sebuah resiko, yang harus dimiliki adalah sebuah data mengenai insiden yang pernah terjadi untuk kegiatan yang sama dalam beberapa kali pelaksanaan. Ambil contoh sebagai berikut, dalam kegiatan rafting selama rentang 5 tahun ( berapa kali rafting) berapa kali peralatan rusak dan kerugian yang diderita akibat insiden tersebut. Dari laporan yang ada kita bisa melihat tingkat keseringan sebuah kejadian, besar kecil kerugian yang diderita, kondisi peralatan dan orang saat insiden serta lingkungan kegiatan. Nah tanpa data – data, akan sangat sulit untuk membuat ukuran resiko sebuah aktifitas. Jikapun bisa, nilai tersebut akan lebih cenderung subyektif dari perorangan maupun kumpulan orang yang membuat.

Dalam penentuan ukuran sebuah resiko, banyak sumber yang menggunakan 3 faktor dasar yang mempengaruhi nilai resiko sebuah aktifitas. Ketiga factor tersebut disebut sebagai sumber resiko, yaitu ; manusia, peralatan dan lingkungan. dalam dunia keselatan kerja, manusia dikategorikan sebagai sumber resiko paling dominan, hampir 80 % kecelakaan yang terjadi dalam dunia industri, dalam hal ini industri apa saja termasuk kegiatan alam terbuka dikarenakan factor manusia yang mengikuti kegiatan.

Manusia Alat Lingkungan
Skill -  kemampuan fsilitator/instruktur/pemandu dalam memberikan materi, mengendalikan situasi, sebagai safety officer Pakaian– apakah setiap orang dalam kelompok sudah memiliki pakaian yang memadai untuk kegiatan?  Cuaca – bagaimana kondisi cuaca? Mendung, hujan, panas memiliki karakteristik sendiri 
Perilaku – perilaku yang berhubungan tentang keselamatan dan bisa diterima oleh peserta. Apakah perilaku peserta terlalu machoisme?
Kesehatan – apakah fisik,stamina dan mental peserta sudah siap untuk melakukan kegiatan tersebut? Alat Pelindung Diri – helm, harness, sunblock, sepatu dan sudah dipakai dengan benar?  Air bersih – kebutuhan vital untuk minum, bersih diri apakah tersedia?bagiaman dengan MCK?
Umur – remaja, manula dan anak – anak memiliki karakter dan kondisi yang berbeda
Jumlah peserta – apakh jumlah peserta masih dalam batas mampu dikelola? Atau terlalu banyak sehingga butuh pemandu lebih? Kualitas alat keselamatan -  apakah jumlah alat mencukupi untuk setiap orang?apakah ada kerusakan?apakah sudah memenuhi standart? Kontur lahan – bagaimana medan yang akan dilalui? Apakah landai? Berbukit? hutan lebat? perkampungan?panati?
Latar belakang budaya – karakter suku bangsa, bahasa dan gerak tubuh memiliki arti yang berbeda – beda. Belum tentu bahasa A berarti baik di suku B. Ingat, Indonesia punya banyak suku dan budaya Alat komunikasi – radio penghunbung dengan base  camp berfungsi? Sistem komunikasi? Flora dan fauna – tumbuhan bercaun dan berbahaya? binatang berbisa?

Dari ketiga hal tersebut,semakin banyak hal yang menjadi sumber resiko dari 3 faktor tersebut maka kemungkinan terjadinya insiden semakin besar.

Mungkin sudah mulai saatnya pramuka membuat sebuah panduan tentang resiko dari aktifitas alam terbuka yang sebenarnya sudah menjadi aktifitas rutin pramuka. Dengan nilai sebuah resiko, maka akan mudah dalam menentukan spesifikasi peralatan dan standard minimum seseorang yang akan mengikuti sebuah kegiatan,dan hal ini bukanlah sebuah nilai subyektifitas dari instruktur maupun Pembina. Namun berdasarkan kajian ilmiah dan data yang valid. Pertanyaannya adalah, apakah pramuka mau bersusah – susah ria membuat sebuah system yang cukup njlimet namun luar biasa ini, semoga saja…

Indahnya Indonesiaku 4# : Sebuah tattoo dari pantai selatan

Namanya juga jalan – jalan “mblakrak” hingga tebing – tebing curam di pantai selatan, tergores – gores boleh lah asal dikit aja. Kalo goresnya kebanyakan bisa tepar di tengah jalan kita. Saya punya goresan yang cukup berkesan dan bekasnya masih terlihat hingga kini. Terletak di perut kiri dengan bentuk hampir menyerupai pulau Sulawesi, tidak perlu ke tattoo artist  bila anda ingin mendapatkannya. Waktunya pun hanya sebentar untuk membuatnya. Terpeleset dari tebing karang, itulah cara gambar itu sampai ke perut saya.

Luka ini saya dapat ketika menuruni tebing untuk menujua pantai Dlodo, waktunya persis seblum saya break makan apel bersama rekan saya. Waktu itu lereng yang kami turuni cukup curam dan tanaman perdunya cukup lebat, walaupun kecil ranting – rantingnya sangat menyulitkan untuk maju. Tidak jarang ransel pun ditinggal untuk memudahkan gerak saat menyeruak ranting, kemudian baru mengambil tas.

Mendekati bibir lereng, kemiringan sudah hampir mendekati 90º, kami berjalan melewati rute yang berbeda namun masih tetap bisa saling melihat posisi. Rekan saya sudah sampai sungai terlebih dahulu, tubuhnya yang lebih kurus dari saya serta matrasnya yang tidak terletak diluar tas membuatnya lebih mudah menghindari sergapan ranting pepohonan.

Ketika posisi pijakan sudah sangat miring, saya memutar badan dan berjalan mundur sambil berpegangan batang pohon. Biar lebih mudah, ransel yang gantungkan di bahu sebelah kanan, sehingga lebih mudah mengaturnya saat melewati hadangan dahan. Krak!!!! Suara patahan pohon mengejutkan saya, begitu cepat sehingga saya tidak bisa berpegangan pada pohon yang lain. Memang waktu itu tangan kiri saya berpegangan pada sebuh pohon, sedangkan tangan kanan mengatur posisi tas dan membelah ranting yang menutupi di belakang saya. Saya terjatuh menuruni tebing karang tersebut, hingga… hah berhenti.

Sebuah batang pohon sebesar betis menghentikan bungy jumping saya, namun kaki saya masih menggantung. Hanya tangan kanan saya tidak bisa bergerak, ketat sekali seperti terikat pada pohon tersebut. Saya menoleh keatas dan melihat bahwa batang tersebut memisahkan antara tubuh saya yang bergerak kekiri, sedangkan ransel saya kekanan. Ransel tersebut terkunci pada ranting – ranting pohon serta matrasnya seperti sebuah batang grendel melekat erat di sela – sela pepohonan. Jadi meskipun saya tergantung, posisi tas tersebut cukup kuat menahan bobot saya.

3 m dibawah saya adalah sungai Dlodo, “ gak popo kyi” teriak rekan saya yang sudah sampai duluan di sungai. Dari atas saya melihat, kedalamannya hanya setinggi lutut. Jadi tidak dalam rupanya, saya tidak mau membayangkan bila saya tidak tersangkut pohon ketika jatuh. Dengan tangan kiri yang bebas, saya bisa meraih batang yang terdekat dan mencari pijakan kaki yang cukup kuat untuk kembali ke atas guna melonggarkan posisi tas yang terjepit, sehingga saya bisa bebas. Setelah bebas, saya menuruni tebing karang melalu dahan – dahan pohon, tidak melalui tebing. Hup, saya melompat ke sungai setelah karak dahan terkhir yang saya pijak sekitar 1 m dari permukaan sungai.

Baru sekarang inilah saya merasakan panas dipermukaan tangan dan perut sebelah kiri. Oh ya,  saya menggunakan tangan saya untuk menggapai apa saja, pantas aja panas kan jadi mirip rem. Saya angkat bagian bawah baju saya, tempaklah sebuah goresan – goresan warna merah di sana. Saya seka dengan air sungai untuk melihat seberapa dalam lukanya, ah ternyata hanya luka gores karena karang di atas tadi. Tapi harus segera dihentikan perdarahannya biar tidak mengganggu. Saya lihat ke atas lagi, untung ajaaaa tadi nggak nyampe bawah jatuhnya.

tribute to : Simbah Fuad yang lagi macul di Batam

Indahnya Indonesiaku 3# : Only hope keeps you walking

Sebuah harapan, kata yang ringan untuk diucapkan namun kekuatannya jangan diremehkan. Sekitar 10 tahun yang lalu, dalam sebuah achievement motivation training seseorang menunjukkan sebuah presentasi yang bercerita tentang 5 buah lilin yang masing – masing mewakili kondisi manusia. Dengan berjalannya waktu 4 lilin padam, lalu hanya tinggal 1 lilin yang diharamkan padam oleh motivator, itulah lilin harapan. Harapan inilah yang bisa membangkitkan semangat seseorang sehingga mampu untuk menyalakan 4 lilin yang lain.

Lilin inilah yang manjadi senjata kami saat menerobos sebuah bukit yang menjulang antara pantai Klatak dan pantai Nglarap. Rombongan kami saat itu lumayan besar, lebih dari 10 orang dan hampir separonya adalah cewek, jadi kecepatan dan akselerasi kami pun lambat. Saya yang ikut hanya sebgai peserta kurang resmi untuk numpang seneng jalan – jalan, terpaksa harus menghabiskan waktu jauh di belakang atau mengulur waktu berangkat, itupun bisa menyalip rombongan. Saya heran, ini jalan apa ngesot yak.

Setelah melewati pantai Nglarap, kami harus beristirahat untuk mengganti kaos kaki yang basah dan membilas baju yang kami pakai agar tidak lengket karena air garam. Sehabis makan dan sholat, kami melanjutkan perjalanan. Klatak harusnya sudah dekat, satu lengkungan bukit saja yang membatasi dengan posisi kami saat ini, sayangnya rute paling nyaman dan dekat yaitu menyusuri pantai tidak bisa dilakukan.  Pesisir yang membentang di depan kami merupakan pantai cliff, bukan hamparan pasir yang ada dipinggirnya, namun tabing karang curam vertical yang berbatasan langsung dengan laut. Nekat merayap menyusurinya sama saja dengan cari mati, mana gelombangnya besar lagi.

Kondisi ini memaksa kami untuk melintasi bukit, menurut peta topografi yang kami bawa, jaraknya tidak lebih dari 2 km. Wah, sore sudah bisa sampe ini. Awalnya tidak ada tanjakan yang berarti, namun semakin lama kok tambah curam aja, belum lagi pepohonan tambah rapat. Bahkan, beberapa peserta harus mendaki tanpa menggendong ransel mereka, giman mau gendong ransel, bawa badan aja udah miring – miring. Saya sempat menarik beberapa tas ransel dengan menggunakan tali, jadi tas – tas tersebut sengaja ditinggal di bawah, kemudian saya mendaki dan mencari pohon untuk mengikat tali sekaligus pegangan. Tali tersebut yang saya pakai untuk menarik tas – tas itu, ternyata lebih berat daripada memanggulnya dipundak.

Langit sudah redup saat kami masih harus berkutat dengan evakuasi tas, tim survey pun bingung menentukan arah karena lebatnya vegetasi di bukit ini. Wah, parah juga nih yang survey. Saya lihat peta milik salah seorang kawan, tidak ada marking yang bisa dijadikan patokan dasar. saya hanya kira – kira saja posisi saat  ini. “ Makde, belok kiri kayane wis tekan Klatak (makde, belok kiri sepertinya udah Klatak)”, begitu saya bilang pada salah seorang senior yang kebetulan ikut. “gak usah wis, tekan puncak disik ae ( Jangan, samapi puncak dulu)”, dia menjawabnya sambil terus berjalan.

Make sense, dari puncak kita bisa menentukan posisi jauh lebih baik dari pada di tengah belantara begini. Lewat magrib kami mencapai puncaknya, jarum jam di tangan saya menunjuk angka 6 dan 10. Gila gelap banget, pohonnya juga tinggi – tinggi sehingga kami juga sulit melihat kondisi dibawah. Hanya satu keinginan kami saat itu, jangan sampai menginap di bukit ini. Titik tidak ada koma!!! Have fun go mad, keluarakan parang tebas. Harus buat jalan sendiri untuk melintasi hutan kecil ini.

Startegi yang kita pakai adalah, 2 orang sebagai penebas jalan, bertugas untuk membuat jalan dan member kode jalan pada kelompok bila jalan tersebut bisa dilewati. Bila tidak bisa dilewati, maka kodenya adalah stop jalan.  Hal ini untuk mencegah kebingungan bila seluruh kelompok harus jalan bolak – balik karena tidak bisa dilewati. Dan 2 orang sebagai sweeper di belakang kelompok untuk memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal. Saya yang termasuk senior menjadi sweeper.  Ditengah perjalanan saya melihat sesosok putih menggantung di pohon, bercahaya seperti fosfor, jadi saya urungkan untuk berteriak ada kuntilanak, karena kain kafan tidak bisa berwarna putih kehijauan seperti itu, bercahaya lagi. Bentuknya bulat bergelung, seperti tali namun sebesar paha. “ yik, ojok omong arek – arek, ngko marai wedi malah ruwet ( Yik, jangan bilang anak – anak, kalo mereka takut bisa ruwet). Memang benar yang dikatakan rekan sweeper saya, dalam kondisi seperti ini, kekuatan mental, konsentrasi dan tidak mau menyerah jauh lebih penting dari kekuatan fisik. Sekali mental mereka drop, mengangkat ransel pun saya jamin mereka tidak kuat.

Belum juga berjalan 30 menit, “ ganti sing golek dalan, kesel ( ganti yang cari jalan, capek). Terpaksa kami berdua maju, karena tinggal kami berdua yang senior dan lebih kuat mental dari pada mereka yang junior. “Mas Puguh, sampeyan sweeper yo” kata saya kepada salah seorang senior untuk menggantikan posisi yang kami tinggalkan. Dengan parang kami tebas dan mencari jalan yang landai, tidak perduli nanti akan tiba dimana. Saya sadar, semakin lama informasi atau arah yang tidak pasti akan menghancurkan mental. Bila jalan tersebut landai, maka kami informasikan kelompok untuk maju. Dimalam inilah saya mengeluarkan darah yang cukup banyak, batang rotan yang saya tebas roboh tepat di atas tangan saya. Seperti imunisasi saja, begitu dicabut wuihhhh ternyata durinye gede, pantes darahnya banyak.

“Jam piro Kyi?” kata rekan penebas saya, “jam 8 bengi”, saya menjawab sambil tetap berjalan di kegelapan. Dari jauh saya melihat ada seberkas sinar lampu diantara dedaunan, itu pasti milik kapal nelayan. Pantai tidak jauh lagi, semakin semangat kami berjalan hingga sebuah belukar menutup semua pandangan. Terpaksa saya melakukan illegal logging, menghabisi belukar di depan saya. Ah ternyata cuman satu lapis aja, samar – samar terlihat sebuah lekukan di antara belukar dan tanaman perdu. Apakah itu jalan setapak?saya mengarahkan senter untuk melihat lebih jelas. Ya, sebuah jalan.

Semangat saya makin membuncah, tubuh saya seperti baru direcharge, sangat bertenaga. Inilah kekuatan harapan, harapan untuk segera keluar dari bukit ini. Samar – samar saya melihat lampu yang tadi saya lihat, wah berarti sudah dekat ini. Sedikit berlari saya lewati jalan tersebut beberapa meter untuk memastikannya lagi. Berkelok menurun diantara belukar, kali ini tidak mungkin salah lagi. “ jalan setapak”, saya berteriak kepada rombongan di belakang, kali ini tidak seperti yang sudah – sudah, jawaban yang terdengar menandakan semangat dan keceriaan, “ hah, beneran ta mas” atau “ akhirnya”. Ya, kita pasti segera keluar dari sini, saya mantap berkata dalam hati.

Makin mengikuti jalan ini, samar – samar terdengar suara aning menyalak dan suara lelaki yang sedang berbicara. Lampu kapal yang tadi hanya terlihat samar, sekarang seperti diarahkan kepada kami. Rupanya mereka mendengar keributan di bukit ini. Cahaya lampu tersebut seperti mencari – cari asal suara derap kaki kami, cahaya tersebut menyisir dimana kami berdiri. Namun kami yakin, mereka tidak akan bisa melihat kami dengan rerimbunan seperti ini. Hah jalan ini habis, sebuah tebing setinggi hampir 2 m menganga memotong jalan saya, tebing ini seperti hasil potongan pisau yang sangat besar karena saya tengok kanan kiri menunjukkan hal yang sama. Kalo bukan buatan manusia tidak mungkin bisa seperti ini. Saya arahkan pandangan ke depan, ternyata bukan kapal.

Seorang pemuda dengan senter berbatere 6 diarahakan kepada kami berdiri dengan ditemani anjingnya. Dia juga tidak berdiri di atas kapal, melainkan di sebuah tanah lapang. Saya meloncat turun untuk melihat keadaan sekaligus mengenalkan diri pada pemuda tersebut. Ternyat saya berdiri disebuah jalan tanah yang cukup lebar, inilah jalan lintas selatan yang ramai dibicarakan banyak orang tersebut.

“Klatak, taksih tebih?’ kami bertanya pada pemuda tersebut. “Wah sampeyan kebablasan mas” ternyata hanya terlewat 200 m, kami berjalan melalui jalan pemerintah tersebut untuk menyampainya. Saya menoleh kebelakang, melihat bukit yang baru saja kami lewati membentuk bayangan segitiga yang menghitam. Alhamdulillah, kita bisa keluar dari sana mala mini. Untunglah adik – adik kami yang baru ini tidak semuanya yang patah semangat dan memelihara harapan sehingga mampu berjalan selama itu dimedan sesulit itu. Jarum jam menunjukkan 9 malam lewat. Ahhh.. saya lapar sekali, belum pernah saya selapar ini sebelumnya.

 

Indahnya Indonesiaku 2# :

Travelling membutuhkan kondisi fisik yang prima, apalagi bila kita termasuk penggemar petualangan alam terbuka. Dengan fisik yang oke punya, akan lebih mudah melakukan sebuah pemikiran analitis, dan pastinya akan membuat peluang anda selamat lebih tinggi.

Saya pernah melakukan perjalanan dari pantai Molang – pantai Sine berdua, dengan teman yang juga sama – sama tidak pernah melewati daerah ini. Hanya informasi dari rekan – rekan di Tulungagung bahwa Sine merupakan pantai pelabuhan pendaratan kapal nelayan yang besar selain Prigi dan Popoh. You’ll never know if you don’t try it hehehehehe.

Dengan peta topografi dan kompas, kami berdua berjalan dengan percaya diri sambil melakukan ploting sebagai cek poin. Rute pertama dari Molang sudah merupakan ujian fisik, seorang penduduk lokal dengan santainya bilang “namung munggah sepindah kok mas (hanya menanjak satu kali kok mas)” kata bapak tersebut sambil mengisap rokok klobotnya. Tak salah memang, karena sudah hampir 1 jam berjalan di tengah hutan jati masih belum ada juga jalan menurun.

Waduh, diawal hari aja udah pegel – pegel gini, mana masih jauh lagi. Mendekati puncak, pepohonan semakin jarang, kemudian keluarlah kami dari siksaan ini. Tanjakan habis, dan tampaklah jalan aspal, namun bukan itu rute kami. Arah menuju Sene berseberangan dengan arah jalan aspal tersebut, sebuah jalan setapak dengan beberapa rumah dikanan kirinya. Seorang ibu paruh baya berkata” oh… taksih tueeebihhh (oh.. masih juauuhh)” saat dia menanyakan tujuan kami kala melintas didepan rumahnya. Nahh..bener kan firasat saya. Tampang kami memang jauh dari penduduk lokal, bercelana lapangan, warna kaos ngejreng, ransel lengkap dengan matras membuat kami seperti alien ditengah – tengah lingkungan ini.

Makin ke barat, pepohonan makin rimbun dan tak ada rumah lagi. Hutan menyambut langkah kami ketika masuk tengah hari, pohon – pohon jati dipadu dengan perdu membuat kami sulit membuat cek poin. Makin jauh ke dalam hutan, jalan setapak yang mulanya tampak samar makin hilang, sinar mentari pun makin sedikit karena terhalang dedaunan yang cukup lebat. Di dalam hutan inilah saya menemukan sebuah sarang laba – laba dengan warna jaringnya kuning, laba – labanya pun sangat besar. Saya tidak sengaja melewati sarang ini tepat ditengahnya, si empunya rumah pun sempat singgah ke ransel sebelum disingkirkan oleh rekan saya.

Tidak lama kemudian kami mendapatkan ujian kembali, didepan kami terhampar sebuah tebing dengan kemiringan hampir 60º, tidak berbatu dan ditumbuhi pohon jati yang masih sebesar betis. Kami sempat memeriksa apakah ada jalan memutar, ternyata tidak ada. Jadi memang harus dipanjat, untung  saja pohon jati kecil ini tidak protes saat kami bersandar padanya melepas lelah. Bukit ini ternyata pendek saja, cukup 30 menit berjalan kami sudah tiba di puncaknya dan yang membuat saya terkejut adalah ada jalan yang cukup lebar. Jalan makadam selebar 4 m. Saya lihat di peta, ohh.. ini rupanya jalan yang sering dibicarakan orang tua dulu sebagai jalan untuk membuang mayat PKI. Di kedua sisi jalan tersebut merupakan lereng yang cukup curam dengan pepohonan jati dan perdu dimana kami baru saja melewati salah satunya. Peta mengindikasikan bahwa di depan jalan ini pantai Dlodo, suara ombak yang terdengar cukup kuat menandakan jaraknya dekat sekali. Hanya ada 1 bukit yang menghalangi kami dari pantainya, hal ini membuat adrenalin kami terpompa. Kami mengira bahwa lereng di sisi jalan satunya akan terpotong ditengah, kemudian menanjak dan memutar bukit sebelum turun ke pantai. Dugaan kami salah, setelah menuruni lereng curam dengan perdu yang lebat, kami disambut sebuah sungai yang cukup lebar. Sial, saya lupa bahwa Kali Dlodo terletak persis sebelum pantai Dlodo, bagaimana saya bisa melewatkannya di peta. Sungai tersebut tidak dalam,saat kami turun memeriksanya namun mustahil pula untuk memanjat tebing bukit yang ada di depan. Saya berkata, kalau kita ikuti sungai ini pasti bermuara di pantai Dlodo, namun tebakan kami, sungai tersebut akan semakin dalam ketika mendekati pantai, belum lagi  pertemuan arus sungai dan ombak laut yang membuatnya lebih berbahaya untuk dilewati.Tidak aman, kami pun kembali naik ke posisi awal dan mencoba jalur yang lain. Namun masih juga belum menemukan jalur yang aman. Hingga 3 kali naik turun lereng itu, hingga sebelum melakukannya yang ke empat, saya bilang “ leren disek, kesel (istirahat dulu, capek)”. Sambil duduk selonjor di tengah jalan makadam itu, saya mengambil 2 buah apel sebagai pengganjal perut kami siang itu. 10 menit kami duduk sambil makan, tiba – tiba kami melihat sebuah jalan setapak kecil diantar rerumputan membelah lereng itu. Bloody idiot!!! Saya berteriak dalam hati, bagaimana ini bisa tidak terlihat. Jalan tersebut merupakan jalan bagi penduduk sekitar untuk mencari kayu bakar di hutan, dan diujung jalan itu terdapat sumber air. Dari sumber air itu kami bisa melihat bibir pantai dan ombak besar laut selatan.

Sudah jam 2 siang, artinya 5 jam sudah kami berjalan dari molang tanpa henti kecuali makan apel di tengah jalan tadi. Dan hampir 2 jam kami habiskan naik turun lereng ini, sembari minum di sumber air ini langsung dari pancuran yang ada di dekat pohon saya berkata pada rekan saya “Mbah, mestine mau ngaso karo masak disik yo, mosok wis dibaleni ping pindo kok gak sadar ae” ( Mbah, mestinya kita tadi istirahat dulu sambil masak, udah boalk – balik 2 kali kok gak sadar juga). “Iyo kiy, mosok enek dalan kepenak kok yo ra ketok, wis kekeselen mau iku. Dadi gak iso mikir”. (Iya, masak ada jalan yang enak kok tidak ketahuan, tadi udah kecapekan. Jadi kurang bisa berpikir). Jadi bila anda seorang pegiat alam terbuka, pesen saya adalah selalu sempatkan istirahat dan makan, ingat tidak ada logika tanpa logistic!

 

Tribute to: Mbah Fuad yang sekarang lagi macul di Batam

Indahnya Indonesiaku : session 1#

Saya termasuk sedikit orang yang beruntung karena bisa menikmati bepergian, bahkan dengan jarak yang cukup jauh. Semua cara travelling pernah saya lakukan, berjalan kaki, “terpaksa berenang”, berdesakan dalam bus atau kereta ekonomi, hingga menikmati kenyamanan kursi business class dalam penerbangan ke eropa pun pernah saya rasakan. Hingga tadi malam,,saat seorang teman meminta untuk menuliskan pengalaman [...]

GILI KETAPANG,SEBUAH IRONI

The two towers, jalur masuk ke pelabuhan Probolinggo dari Gili Ketapang

Menyebut pulau Gili Ketapang sebenarnya sudah merupakan pemborosan kata. Tapi mau gimana lagi, tidak semua orang mengerti tentang arti gili dalam bahasa Indonesia adalah pulau.

Gilli Ketapang terletak di utara kabupaten Probolinggo, sejarak 30 menit dengan menggunakan perahu penyeberangan yang tersedia di pelabuhan Problinggo. Tidak sulit untuk menjangkau pulau ini karena penyeberangan reguler tersedia sepanjang waktu. Dari terminal Probolinggo anda bisa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkutan umum menuju pelabuhan penyeberangan ke Gili Ketapang. Pastikan itu, karena ada 2 pelabuhan di probolinggo, bila nyasar maka tidak akan menemukan kapal yang menyeberang ke Gili.

kapal pesiar udah siap

Kapal penyeberangan merupakan kapal tradisional yang tidak dilengkapai dngan bangku, hanya sebuah papan kayu 2 – 3 lembar saja yang diletakkan sejajar berdekatan dengan mesin diesel kacangan buatan cina dengan. Umumya orang duduk di dek atas bercampur dengan barang bawaan, relatif lebih senyap bila dibandingkan dengan duduk di bawah berkawan dengan mesin. Dalam keadaan normal, ombak diperairan sini tidaklah besar, bahkan cenderung tenang, namun belakangan ini cuaca di Negara kita lagi tidak jelas, jadi kecenderungan gelombang besar sering terjadi.

 

 

Full load

Penyeberangan dari dan ke Gili telah di hentikan sejak 2 minggu sebelumnya, laut sedang mengamuk sehingga tidak ada penyeberangan yang beroperasi. Hmm beruntunganya saya ketika tiba laut telah kembali jinak, bila tidak pasti batal deh ke Gili. Namun begitu, penyeberangan harus di lakukan dengan cepat dan disaat yang tepat, langit yang cerah cepat sekali berbah dengan mendung gelap. Bila sudah begitu, gelombang mulai berdatangan dengan ceria. Dengan menyewa 3 buah kapal, rombongan yang berjumlah 76 orang dengan perlengkapan berkemah diatur sedemikian rupa untuk memenuhi 3 kapal tersebut. Akhirnya berangkat ………

 

 

Bayangan awal saya tentang gili ketapang adalah sebuah pulau yang lumayan sepi, bahkan mungkin akan sulit untuk mencari sebuah warung disana. Karena pikiran ini pula saya sempat berpikir untuk membeli satu dos air mineral yang rencananya akan saya jual kepada sesama peserta hehehehe namun rencana ini gagal karena kendaraan yang saya tumpangi tidak berhenti di swalayan. Saya juga tidak kecewa dengan hal ini, saat di tengah laut, lamat – lamat terlihat pulau gili di kejauhan. Tampak banyak gedung dan bahkan sebuah kubah masjid yang cukup besar hingga tampak begitu jelasnya dari jarak sejauh ini. Dari keterangan yang saya peroleh waktu di kapal, ternyata warung pun banyak disana. Andainya tadi jadi berdagang,jaminan rugi udah pasti tuh.

Kami tiba disisi selatan pulau menjelang sore, kapal kami tidak bisa mencapai pantai karena air sudah dangkal. Setelahlama berdiskusi akhirnya diputuskan untuk memutar keutara

sisi selatan pulau

pulau, sandar di dermaga dan kami pun terhindar dari berbasah – basah. Celakanya kapal saya kandas sehingga tidak bisa bergerak, sedang 2 kapal yang lain telah berputar haluan menuju dermaga. Jadinya rombongan kapal saya sepakat untuk berbasah – basah mengangkat barang menuju daratan. Lebih runyam lagi karena saya hanya membawa satu celana saja. Ya sudahlah ngak apa – apa, semoga tidak ada hujan hari ini.

Sudah lewat adzan ashar saat tenda dome mulai berdiri di pinggiran pantai, beberapa ada yang hanya mengandalakan poncho sebagai pelindungan ala kadarnya. Cuma satu malam saja, begitu alasana mereka, namun banyak juga yang memang tidak memiliki tenda sehingga memilih berbivouck dengan poncho. Saya sendiri membawa tenda dome mini, hanya cukup untuk 2 orangn dengan warna yang cukup mentereng. Yup doreng, mirip dengan baju tentara sehingga disebutlah tenda koramil. Tenda corak begini ini cukup berjasa saat jamboree Melaka di Malaysia tahun lalu, cukup didirikan di bagian tengah areal perkemahan sehingga bisa mengawasi pergerakan kontingan putri dan putra secara bersamaan,hingga julukan tenda koramil melekat. Yaaah macam koramil lah yang kerjaannya mengamankan hehehhehe

Banyak juga masyarakat local yang hadir, tua muda, pria maupun wanita memadati areal perkemahan kami. Tidak lupa pedagang yang menjajagan penganan ala kadarnya pun ada. Mungkin bagi penduduk di sini, kehadiran kami adalah hal yang aneh, 76 orang yang tidak bisa dikatakan anak – anak datang ke Gili Ketapang dan berkemah. Baju – baju kami dengan berbeagi brevet serta badge pun menambah keanehan yang sebenarnya sudah ada.

Malam itu kami membuat acara yang terbuka untuk umum, berjalan di atas api dan pemutaran film laskar pelangi dengan menggunakan perangkat LCD projector. Dengan sangan antusias mereka menikmati acara tersebut, bahkan hingga larut malam pun mereka tidak bergeming dari tempat duduknya untuk mengikuti petualangan Ikal di Belitong. Agaknya kehadiran kami bisa membawa kegembiraan bagi masyarakat. Ini bisa dihitung sebagai bakti masyarakat tidak ya? Hehehehhe

sisi barat pulau

Esoknya kegiatan dipusatkan dipantai sisi barat pulau, dengan sarapan nasi hangat plus cumi dan ikan tongkol goreng lengkap dengan sambal agaknya susah untuk disaingi oleh rumah makan manapun di Surabaya. Mana ada ikan yang tadi malam ditangkap kemudian paginya kita goreng untuk sarapan. Pantai barat Gili Ketapang tidaklah mengecewakan, pasir putih yang lembut dan laut yang bening, kombinasi yang mematikan buat penikmat tamasya bukan.  Akan tetapi tidak menjadi mematikan lagi karena banyak sampah disekitarnya,plastik dan berbagai cairan limbah rumah tangga mengotori area pulau. Agaknya penduduk dan pemerintah daerah masih belum menyadari potensi wisata yang ada di sini. Bila dikelola dengan visi turisme,pasti lebih banyak duit yang dihasilkan dibandingkan dengan mencari ikan teri dan cumi – cumi.

Saya membayangkan bila pemerintah daerah mengarahkan Gili Ketapang sebagai sebuah wisata budaya dan bahari. Wisata budaya karena kampung dan penduduk pulau ini yang menggunakan bahasa madura sebagai keseharian dan model kampung nelayan tradisional sangatlah potensial dijadikan tujuan wisata.

Potensi alamnya? tidak perlu diperdebatkan lagi,keindahan diatas airnya pastilah tidak kalah dengan di bawahnya. Saya memang belum sempat menyelami lautnya, tidak tanpa wet suit dengan ubur – ubur yang cukup banyak berkeliaran.kebetulan saya sengaja tidak membawa wet suit.

Bahkan muka saya masih merona merah sampai terminal probolinggo karena belaian makhluk transparan ini. Tapi menurut senior saya yang pernah menyelami lautnya di era 80 – 90 an,terumbu karangnya tidak kalah dengan pasir putih.  Belum lagi hiu paus yang banyak melintas jalur tersebut sebagai jalur migrasi mereka, pasti cukup menarik bagi penggemar kegiatan bahari.

Saya tidak habis pikir bagiamana bisa kita bisa kalah tenar dengan Maldives yang merupakan pulau – pulau kecil yang tercecer di samudra Hindia? Teman serombongan yang pernah menyelam di Maldives bahkan mengatakan “ojo’o dibandingno karo bunaken,karo pasir putih ae kalah adoh” ketika saya minta komentarnya mengenai penyelamannya di Maldives pertengahan tahun lalu.

Sudah saatnya kita menjadikan obyek bahari sebagai visi pembangunan, baik itu wisata,perikanan,persatuan bangsa maupun ketahanan Negara. We have more than 18,000 islands…….

 

 

 

 

BALANCE : SEBUAH JAMINAN OPERASIONAL TURBOCHARGER

Turbocharger yang berputar dengan halus merupakan pertanda akan performa yang optimal.

Sebuah analogi sedeherna tentang hal ini adalah dengan membandingkannya dengan berkendara, bila anda berkendara dengan mobil yang tidak balance ( seimbang) rodanya maka anda akan merasakan sebuah getaran yang hebat di kemudi. Semakin kencang mobil berjalan, maka makin keras juga getaran yang ditimbulkan. Dan mobil akan menjadi lebih sulit untuk dikendalikan dengan getaran yang timbul di kemudi. Selain hal itu, getaran yang timbul memberikan dampak kerusakan yang lebih cepat pada komponen kemudi kendaraan kita, sehingga ongkos penggantiannya pun jadi bertambah.

Nah, mobil yang berkecepatan 60 km/jam ( 2000 rpm) dengan roda yang tidak balance akan memberikan efek getaran yang besar, bagiamana bila hal tersebut terjadi pada sebuah benda yang berputar dengan kecepatan sekitar 30.000 rpm? Itu adalah kecepetan rata – rata sebuah turbocharger yang terpasang pada mesin diesel medium speed.

Sekecil apapun deviasi yang terjadi dalam distribusi massa pada rotary part sebuah turbocharger akan memberikan dampak yang sangat besar. Dengan kecepatan 30,000 rpm, 10 g massa akan memiliki gaya sekitar 19,000 N atau setara hampir 1,6 Ton!!! Dalam kenyataannya banyak orang yang menganggap bahwa balancing rotor dari turbocharger adalah hal biasa saja, bahkan beberapa dengan cukup berani untuk melakukan proses balancing dengan menggunakan mesin bubut atau bahkan sekadar penyangga yang bisa memberikan kebebasan rotor untuk berputar.

Operasional turbocharger sangat lekat dengan imbalance, karena sewaktu turbocharger dioperasikan banyak substansi yang bisa mempengaruhi kondisi sebuah rotor hingga menjadi tidak balance. Depoasit yang terjadi selama pengoperasian bisa menambah jumlah massa pada salah satu sisi rotor, dan juga erosi yang mengikis material juga mengurangi massanya. Keadaan ini bisa membuat imbalance tercipta walaupun rotor tersebut sudah melalui proses balancing sebelum dioperasikan.

Balancing merupakan proses yang sangat krusial untuk menjamin bahawa turbocharger akan memberikan kemampuan optimalnya dan yang terpenting adalah keamanan saat beroperasi. Dalam turbocharger, getaran yang timbul akan diserap oleh bearing dan minyak peluman yang menyangga rotor, namun bila getaran yang timbul terlalu besar maka penyangga ini tidak akan mampu untuk melakukan hal tersebut. Kerusakan bearing atau minyak pelumas yang berubah kondisinya bisa menjadi sebuah tanda, namun bisa juga terjadi hal yang lebih besar. Banyak kehancuran sebuah turbin maupuan kompresor bahkan sebuah unit turbocharger dikarenakan imbalance yang terjadi. Dengan getaran yang ditimbulkan terlalu besar, bearing tidak kuat lagi menyangga beban rotor sehingga compressor atau turbine blade menghantam casing dan menimbulkan kehancuran.

Bagaimana dengan anda, masih berani beramain – main dengan proses balancing?

 

 

 

 

 

Ribetnya urusan BBM

Beberapa hari belakangan ini rame bener di media massa tentang hebohnya pembatasan penggunaan bbm bersubsidi buat kendaraan bermotor roda 4 milik pribadi.  Berbagai ulasan mengenai latar belakang kebijakan ini dibuat oleh pemerintah juga ramai diperdebatkan, mulai sisi politik dan ekonomi. Wah pokoknya rame betul deh.

Namun harus diakui bahwa pembatasan penggunaan bbm bersubsidi bagi pengguna mobil pribadi merupakan sebuah keharusan, logikanya kalo mereka mampu beli mobil masak beli pertamax aja ndak bisa. Kalo nongkrongnya aja di starbucks masak ndak mampu. Dan juga potensi penghematan anggaran yang harus dikeluarkan pemerintah untuk mensubsidi bbm juga lumayan loh. Ada dua skenario kebijakan, yang pertama pembatasan penggunaan bbm bersubsidi untuk mobil pribadi dengan tahun pembuatan 2005 dan setelahnya, yang kedua pembatasan penggunaan bbm bersubsidi untuk semua mobil pribadi. Skenario yang kedua akan mudah diterapkan karena tidak perlu menggunakan pemindai atau harus keluarin stnk saat di SPBU. Yang pelat item, semua gak boleh isi premium, beres. Bila opsi pertama yang dipilih, penghematan anggaran mencapai sekitar 10 triliun/ tahun, untuk opsi kedua bisa menghemat 17 triliun/tahun. Banyak lo uang segitu, coba bayangin berapa sekolah yang bisa dibangun dengan duit segitu.

Namanya juga kebijakan publik, pasti bisa aja dijadikan bahan gosip, ada beberapa kalangan yang menyebutkan bahwa kebijkan ini lahir akibat adanya campur tangan operator migas asing yang juga bermain di industri hilir. Kan sekarang banyak tuh SPBU yang bukan milik pertamina, dan rata – rata mereka menjual bbm ron 92 dan ron 95 ( pertmax dan pertamx plus hehehehe).  Bila pemakaian bbm bersubsidi dibatasi, maka bukan tidak mungkin SPBU non timnas itu juga bakalan rame, secara harganya tidak jauh berbeda. Begitu analogi yang digunakan, yaaa bisa jadi sih. dari tonkrongan SPBU aja Pertamina udah kalah set,katakanlah dengan punya  Shell.  Ya mungkin juga sih ada permainan, apalagi beberapa hari belakakangan harga pertamax naik cepet banget ( banyak naiknya ketimbang turunnya). Dari harga IDR 6,650 sekitar 3 bulan yang lalu hingga kemarin saya beli seharga IDR 7,250. Lebih mahal dari shell super yang sama – sama punya ron 92. Wah kalo begini terus bisa- bisa pada lari ke SPBU swasta deh.

Harusnya slogan Pertamina untung rakyat juga untung milik perusahaan migas timnas kita bisa menjadi sesuatu yang nyata dimasyrakat,sehingga orang memiliki keterikatan emosional bahwa dengan membeli bbm dipertamina bisa membawa maslahat bagi masyarakat. Kayaknya sih sekarang slogannya masih sebatas Pertamina untung,orang pertaminanya yang untung hehehehehe

*sampai detik ini saya masih berusaha untuk membeli pertamaxnya pertamina, walaupun sudah ada SPBU shell dengan tampilan,pelayanan dan harga yang lebih menggoda, bisa jadi suatu saat pindah kelain body. Hati sih tetep orang Indonesia hehehe *