persami

Ini adalah kali kedua gudep kami mengadakan persami, kemah pertama di bulan Juni kemarin terbilang cukup sukses. Walaupun saya menyebutnya dengan kemah “pupuk bawang”, karena 90% peralatan dan konsumsi disuplai oleh pihak ke -3, sehingga mirip dengan sebuah gathering keluarga dibandingkan dengan kemah pramuka.

Namun ada satu sesi yang memang khusus kita agendakan disana, yaitu memasak makan siang sendiri. Jadi pada kemah pertama, para Pembina memberikan pelatihan bagaimana cara menggunakan kompor gas lapangan dan kompor paraffin, kemudian memasak dengan peserta yang memang belum pernah sekalipun berkemah. Silahkan berimajinasi sendiri bagaimana keseruan dan bentuk makan siang mereka …. Karena dari awal sudha kita berlakukan untuk semua ( termasuk Pembina dampingnya) “ dilarang membawa mie instant” hahahhaha … ternyata mereka membawa roti. Good one.

Kemah bulan Juni kemarin, yang merupakan kemah perdana dan pelantikan anggota gudep, ditandai dengan penyematan setangan leher oleh orang tua masing – masing serta pengucapan trisatya.

Kemah ke-2, bulan 1 – 2 november kemarin level ketrampilannya ditingkatkan. Semua peserta wajib membawa tenda dan masak makanan sendiri. Sebelum acara perkemahan ini, beberapa pertemuan latihan diberikan materi yang mendukung kemamuan untuk berkemah secara mandiri. Tali – temali, pasang bongkar tenda hingga 2 kali pertemuan dan halang rintang. Saat latihan tenda ini, serius sekali mereka berlatih, bahkan orang tua yang mengantar anak – anak berlatih juga tak kalah serius melihat dan mencoba. Maklum saja, bila mereka gagal untuk mendirikan tenda, bisa jadi satu keluarga bisa tidur sambil star gazing di lereng arjuno – welirang. Taruhan saya, menemukan bintang baru belum tentu, masuk angin jelas sudah bisa dipastikan.

Sabtu pagi, kumpul di pelataran masjid Al-akbar jam 9, setelah itu bersama akan berangkat ke trawas bersama. Saya tidak ikut rombongan berangkat dari Surabaya. Kami sekeluarga berangkat dari malang, dan baru tiba malam hari….. hehehehe.

Oh ya, kemah kali ini juga ikut nimbrung guru – guru yang tergabung dalam MGMP Sidoarjo. Mereka ingin sharing tentang kegiatan pramuka disekolah, dan ini lebih hot lagi karena bukan pramuka di sekolah normal. Tapi ini adalah pramuka yang anggotanya anak – anak home schooling. Saya tidak bisa menulis apa isi diskusi tersebut dan memang belum sempat ngobrol bareng wak kaji tentang apa isi dialog malam itu. Malam itu saya lebih sibuk membakar jagung, menghabiskan ubi cilembu serta mendirikan tenda saya yang masih terbungkus rapi hehehehehe. Kayaknya ini lebih penting dari pada tidur star gazing di trawas.

IMG-20141105-WA0017

Minggu pagi, acara senam pagi dimulai pada pukul 5.30 dengan senam pramuka yang dipandu oleh pembantu Pembina dari pramuka ITS, dengan laptop yang sedang memutar video senam pramuka, kedua orang ini memimpin senam dengan amat lancer. Kemudian dilanjutkan dengan penguin dance, terus terang saya juga ndak begitu paham dengan joget aneh ini. Tapi okelah untuk menghangatkan pagi di trawas yang dingin ini.

Sementara anak – anak bergiat senam pagi, orang tua juga tidak kalah sibuknya. Mereka berklutak – klutik di dapur umum. Jadi para orang tua ini sepakat untuk mendirikan dapur umum, sehingga proses memasaknya bisa jadi lebih mudah bila dibandingkan dengan per tenda. And guess what their breakfast this morning? Egg sandwich… hahahaha, saya kira itu ide yang cukup brilian, cepat, ringkas dan enak. Sayang ini korsp Pembina merupakan kumpulan jawa tulen, harus nasi!! Roti hanya cemilan hahahaha

IMG-20141105-WA0010 IMG-20141105-WA0015

Penjelajahan pagi mempunyai misi untuk mencari 5 benda misterius, yang bila diterjemahkan secara jelas artinya mungutin sampah sepanjang rute yang kita lewati. Lama juga tidak jalan – jalan ditengah hutan pinus, agak berat juga apalagi dengan Haqi yang minta panggul sejak 10 m meninggalkan garis start “ yah, haqi panggul, haqi kesel hehehehehe” anggap saja tas karier 15 kg nangkring di pundak.

Ditengah perjalanan ada satu pemdangan yang aneh, sebuah lintasan flying fox yang sangat panjang, membentang melintasi jurang dan berujung di bukit seberang. Sling baja tersebut kelihatan masih baru dan tidak ada bekas pernah dipakai, entah baru dipasang atau memang terlalu menyeramkan untuk dipakai.

Penjelajahan pagi ini berlangsung hampir 1 jam, itupun sudah dilengkapi dengan berbagai sesi foto – foto hehehehe. Tiba di bumi perkemahan, jeda 30 menit untuk sarapan sebelum sesi latihan dimulai.

Pagi ini,kami sarapan dengan nasi pecel plus peyek hasil rampokan dari rumah ibu hehehehe. Kemah ke -1 kemarin, saya membwa perlengkapan memasak lengkap.bahkan bumbu pun kami buat di buper dengan. Namun kali ini saya agak malas, dengan istri, kami sepakat untuk membawa pecel saja, dan sayur akan kami beli ditrawas. Jadi barang bawaan kami jauh lebih simple dibandingkan kemah 4 bulan yang lalu.

Latihan hari ini akan dibagi menjadi dua kelompok, perindukan siaga akan bermain flying fox dengan didamping mas Acep. Dan saya ketiban rejeki untuk melatih prusik pasukan penggalang. Terakhir saya prusik adalah 14 tahun yang lalu di gudep ITS, dengan berat badan 57 kg, dan sekarang 65kg……

IMG-20141105-WA0003 IMG-20141105-WA0005

Saat pembagian kelompok latihan, “ Kak ayo kita main flying fox,” ndak ada penggalang main flying fox, masak regu naga main sama siaga. Ayo sini kita belajar manjat tali. “Lah masak bisa manjat tali, serius lo kak?” timpal mereka. Bisa, ayo kumpul sini, nanti kita belajar caranya.

Pertama, kita kenalkan cara penggunaan tali tubuh,meskipun ada harness. Ingin kita tanamkan bahwa harus mengerti “the hard way” dan “the easy way” dalam rope skill. Setalah semua bisa dan mengerti, diberikan contoh bagaiaman prusik itu. Saat pertama kali melihat proses memanjat tali, “ woaaa itu ndak putus nanti?”. Hahahaha sukseslah membuat penasaran. Sesi latihan kali ini sangat menyenangkan, mungkin perlu dibawa ke latihan rutin sehingga lebih familiar dan akan lebih mudah mengajarkan rapling kedepannya.

IMG-20141105-WA0000 IMG-20141105-WA0014

Kemah ke-2 ini jauh lebih cair dan tertata dibandingkan dengan 4 bulan yang lalu, sedikit demi sedikit saya rasa perkemahan kami akan menuju sebuah perkemahan yang mandiri sepenuhnya, bahkan salah seorang ibu berkata “ tidak apa sekarang saya repot begini, barang bawaan banyak. Kedepan kami akan hanya mengantar mereka ke tempat pemberangkatan saat ada persami lagi”

Dan kami mulai bergosip bahwa persami mendatang kita akan pindah arena, 2 kali kemah di gunung dan bergiat di gunung, ada baiknya kemah mendatang kita boyong di area pantai dan bergiat di laut.

Iklan