kemah4

Salam pramuka bagi semua, baik yang didunia nyata, dunia maya maupun alam gaib. Mumpung masih segar dalam ingatan saya betapa luar biasanya kemah edisi ke 4 kami, meskipun dilokasi yang sama dengan kemah ke-2 plus catering service untuk makan ( khusus peserta rek, korps Pembina yo panggah masak dewe) namun bagi saya lebih oke dari pada kemah- kemah sebelumnya. Inilah kemah kami selama tiga hari 2 malam, makanya lebih maknyus kemahnya. Saya memilih judul jungle trekking karena inilah acara yang memberikan banyak komentar dan membuat saya takjub bahwa siaga – siaga KS itu staminanya kuat dan tahan lama hehehehe

Jum’at selepas shoalt jum’at, bumi perkemahan mahanaim sudah dipenuhi oleh “perumahan KS”. Hmm.. saya masih ingat pertama kali kita kemah tahun diawal 2014, hampir semua hal disiapkan ( termasuk tenda dan makan) dan masih sangat kaku bergiat di perkemahan. Tapi sekarang, wow… itu yang bisa saya katakana. Peserta datang lebih dulu dari kami para Pembina, dan lingkungan perkemahan sudah tertata. Sudah siap untuk berkemah.

Gong dari perjusami kali ini dimulai hari sabtu pagi, jungle trekking dengan diselingi memasak makan siang ditengah hutan. Dalam latihan rutin dua minggu sebelum kemah, sudah kita prakterkan cara memasak dengan menggunakan kompor lapangan. Mulai dari kompor yang menggunakan bahan bakar gas dan paraffin. Sebenaranya waktu latihan saya mau berbagi bagaimana membuat sebuah kompor darurat dengan bahan kaleng bekas, namun tidak jadi dilakukan karena lupa membeli coca cola kaleng hehehehe. Karena tema latihannya adalah memasak, maka hasil akhirnya adalah makan bersama di kebun bibit, hasil dari masakan kami dan adik – adik. Nah, latihan inilah nanti yang akan dipraktekkan dalam penjelajahan.

Setelah sarapan, kita semua berkumpul dilapangan utuk pembagian grup penjelajahan. Ada 3 kelompok besar, kelompok 1 adalah HOHOHO, kelompk 2 HAHAHA dan kelompok 3 HEHEHE. Sedangkan saya ketiban sampur menjadi vore rijder untuk penjelajahan kali ini. Should be fun……..

Semua anak sangat antusias menyambut acara ini, saya kira inilah acara favorit mereka sata berkemah setelah bakar jagung di api unggun. Pra siaga,siaga, penggalang dan Pembina semua ikut. Oh ya, kita juga punya dua orang penegak-pandega yang membantu. Jadi lengkap sudah ini kita punya binaan, siaga s/d pandega pun ada.

10 menit perjalana pertama kita masih berjalan dalam satu rombongan besar sebagaimana awalnya. Saya sangat menikmati celoteh riang nan ajaib anak – anak karena menemukan daun ataupun binatang yang bagi mereka aneh. Pa, itu yang di daun itu apa ? saat ada sebuah capung melintas dan hinggap disebatang rumput. Atau ketika “ jangan masuk air, nanti ada buaya”. Hufff komentar ini menyelamtkan saya dari berteriak – teriak untuk mencegah mereka beramin air disepanjang sungai yang kita lewati. Sik talah, mulai kapan boyo tekan trawas?

Setelah 30 menit berjalan, rombongan mulai terpecah menjadi 3 bagian. Maklumlah, rute yang dilewati juga naik turun mirip lagu ninja hatori “ mendaki gunung lewati lembah”. Guess what, rombongan paling depan dan yan tepat berjalan di belakang saya adalah seorang cewek imut berusia tidak lebih dari 7 tahun. Dan sangat energetic. Luar biasa bukan

10612703_10205822082645411_5258931888875811078_n

Mungkin juga kelompok saya bisa distilahkan breakaway bila dalam lomba balap sepeda sehingga jarak antar kelompok terlalu jauh. Kami putuskan untuk istirahat sejenak ditepi sungai kecil sembari menikmati kudapan. Saya ingat membawa 4 buah apel dalam tas, dan karena itu pula tidak kebagian. Lha wong diminta sama anak – anak, harusnya bawa 1 kg. Dalam momen menunggu rekan lain yang dibelakang, tidak lupa melakukan kegiatan yang menjadi favorit dari banyak orang saat ini. Foto, ya mengambil foto dengan latar belakang hutan bagi anak – anak sangatlah seru and worth to fight for. Walaupun untuk itu pak Iggy harus rela lompat – lompat sambil gendongin bocah – bocah itu agar tidak tercebur demi mendapatkan angle yang bagus.

11933407_10205822078845316_6630884678652963184_n

Mulai dari titik inilah, rute jelajah lebih menantang. Masuk lebih jauh ke hutan pinus dimana jalan setapak menanjak,kiri jurang yang sangat dalam. Jalannya pun hany bisa dilalui oleh 1 orang, jadi tidak perlu memamsang pengumuman dilarang mendahului atau balapan waktu jelajah. Memang mau terbang apa kalo nyalip. Karena jalan yang menanjak pun mungkin pula sudah lelah mulai banyak terjadi demo mogok jalan. “ I will say thank you to you if you gendong me”, itu salah satu ungkapan yang masih cukup membekas. Wah ini si Haki kok ceria banget kak, kata seorang ibu melihat anak saya yang masih ceria dan bisa berteriak lantang ditengah hutan “ Ayooo yah, jalan, jangan duduk”. Wuih kuat sekali ini anak, begitu pikirnya. Setelah itu saya jalan sambil memanggul Haki, barulah kalimat khas yang sering kita dengar keluar “ Ooooh, pantesan ora kesel”. Hahahaha

Lantaran jelajah kita kali ini yang cukup jauh, dan ini agak bikin saya khawatir dengan kondisi peserta. Apalagi setelah saya tahu bahwa ada ibu hamil 7 bln yang ikut!!! Wadooooh, apalagi ketika pak Tepe dan pak Tang ngobrol “ who is gonna responsible if something happen to 7 month pregnant mother back there?” Mateng koen!!!!! Saya sempat kepikiran, waduh ini harus balik terus bikin tandu kayaknya. Mugo – mugooooo ora popo.

 

Kita tiba di base camp secara bertahap untuk makan siang sesuai dengan jadwal makan, hampir jam 12:00. Pas lah untuk waktu makan siang. Wajah – wajah lega dan ceria terlihat ketika tahu bahwa ini adalah “finish”, padahal ini hanyalah halte saja, bukan garis akhir hihihihihi. Dan saya tidak mau merusak momen ini dengan mengatakan bahwa ini baru ¾ perjalanan, bisa bubar nanti.

Acara memasak berlangsung cukup heboh dan kebanyakan peserta sangat menikmati hasil masakan mereka. Entah karena sangat enak atau kelaparan gara – gara rute trekking yang menurut saya kurang ajar bagi pemula. Anak – anak yang tadi mengeluh capek, sekarang kok tidak ada keluhan lagi ya. Berkumpul dengan keluarga masing – masing, bermain dengan teman sebayanya seolah lupa bahwa 30 menit yang lalu mereka nangis dan mogok berjalan.

Hampir 1.30 kami beristirahat dan menikmati makan siang di tengah hutan, sembari bercerita mengenai perjalan yang baru saja kita lalui bersama. Dan saya bernafas lega saat melihat bu Debby tiba dengan kondisi yang baik – baik saja. Oh ya, inilah ibu yang hamil 7 bulan itu. Huffff

Hmm…mari mangan kok ketok lemes yo? Melihat kenyataan ini, akhirnya diusulkan bahwa perjalanan akan dilanjutkan dengan naik mobil. Bapak – bapak akan pulang ke camp groun, mengambil mobil kemudian menjemput para peserta. Kebetulan ada lapangan dekat base camp yang bisa dipakai. Walau perlu berjalan melintasi hutan lagi sekitar 200 m untuk mencapai lapangan.

Tidak semuanya naik mobil, saya dan sebagian kecil kelompok memilih melanjutkan berjalan kaki, karena jarak ke camp ground hanya sekitar 500 m saja. Dan terbukti kami bisa sampai lebih cepat dari pada yang naik mobil. Mobil harus berjalan memutar untuk mencapai lapangan, sedangkan dengan jalan kaki langsung lurus saja.

Selama perjalan dari base camp saya sempat rasan – rasan dalam kelompok kami “ wah kayaknya ini peserta kelelahan, sepertinya nanti anak – anak langsung tidur sampe besok pagi hihihihihii”. Ternyata prediksi saya salah besar sekali. Hanya dalam tempo 1 jam setelah mereka tiba di perkemahan, mereka langsung bermain sepak bola dan berkejaran di lapangan perkemahan. Woooo tibakne sekti temenan arek – arek iki.

Selepas ashar, mereka melanjutkan kegiatan dengan bermain lomba panahan, sasarannya? Sebuah gawang mirip gawang sepak bola yang terbuat dari bamboo. Jangan anggap mudah untuk memasukkan anak panah ke gawangnya, meskipun lebar. Karena panah yang kita miliki terbuat dari spon dan plastic, sehingga sangat sullit untuk membidik lurus. Kena angin dikit aja, udah mlengos anak panahnya. Heboh sekali lomba ini, karena hadiahnya menarik bagi anak – anak. Entah kapan belinya para Pembina ini, sekantung tas kecil berisi berbagai asesoris dan permen yang dipamerkan kepada mereka sebagai hadiah bagi pemenang. Walaupun begitu peraturannya, dalam kenyataannya ada juga yang tidak pernah menang sekalipun tapi mendapatkan permen. Dengan senjata yang sangat ampuh dan sulit sekali untuk mengatakan tidak, nangis. Ya, melihat kenyataan bahwa temannya bisa menikmati jelly candy dan dirinya tidak. Untung permennya masih ada. Sembari ngopi menjelang magrib setelah perlombaan selesai, mas Joko bilang “ kemah besok, kita beli permennya harus lebih banyak, sopo ngerti ngko anakmu yo nangis pisan Yik,” Hahahahahaha

 

Malam itu api unggun berlangsung lebih rame dari biasanya, yaaa memang karena pesertanya lebih banyak dari kemah – kemah sebelumnya. Penampilan perseorangan dan berkelompok secara spontan menjadi suguhan yang menakjubkan menurut saya. Setiap Pembina bergiliran memberikan sebuah permainan untuk menghibur seluruh warga perkemahan. Saya mendapat nomor terakhir untuk memberikan sebuah permainan. Sudah lewat jam 8 malam, langsung saja saya tutup dengan pengumuman bahwa jelajah malam akan dimulai jam 8.15 hehehehehehehehe, tidak perlu permainan – permainan.

Jam 8.25, rombongan mulai bergerak meninggalkan perkemahan untuk jurit malam, tidak semua ikut acara ini. Hanya sekitar belas orang saja, yang lain memilih untuk membakar jagung dan ketela di api unggun. Saya? Saya jaga perkemahan karena tiba – tiba Haki muntah, sehingga harus membersihkan lantai tenda biar bisa tetap nyaman kita tidur.

Selepas subuh, sudah bayak peserta yang telah bangun untuk menikmati pagi di lereng Arjuno ini. Secangkir kopi disini jauh lebih nikmat disbanding milik starbuks coffee. When you talking about pleasure, there’s a point where money can’t buy, only sound of wow is more than enough.

Tema pagi ini adalah lomba tradisional HUT kemerdekaan RI, dan semua harus ikut menjadi peserta, bahkan panitia lomba sekalipun. Lomab pertama adalah sepak bola terong dengan mata tertutup. Apalagi ini. Dengan mata terbuka aja, susah menggiring bola dengan menggunakan terong yang terikat benang di pinggang hingga masuk ke gawang, nah ini… mata harus ditutup pula. Yang berlomba adalah orang tua, sedangkan anak menjadi pemandunya.

“Eh, mas iki piye? Anakku umur 3 tahun, opo yo iso dadi pemandu?”

“Anu pak,pinjam anak yang lain aja untuk jadi pemandu, silahkan nego sendiri ama anaknya, dan yang punya anak tentunya “

“ Pa, maju maju, kebanyakan mundur dikit”

“Kiri kiri, kiriiiiii”

“Bukan ituuuuuu! gimana se, bolanya udah kelewat, mundur lagi”

“Looooooh.. kok diinjek bolanya?!”

Ternyata hebohnya lebih luar biasa bila pesertanya adalah orang dewasa, menurut saya jauh lebih kocak dibandingkan dengan siaga atau penggalangnya. Saya jadi curiga, ini sebenarnya yang pengen kemah orang tuanya, bukan anak – anaknya hahahahahahahha.

Usai lomba sepak bola terong atau apalah namanya, dilanjutkan lomba makan kerupuk khusus untuk ibu – ibu. Kita tawarkan, ketinggian tali gantungannya tetep seperti kemarin waktu dipake lomba anak – anak atau kita tinggikan? “ woooo, aku lak tiarap kak mangan krupuk e nek gak sampeyan duwurne”

Untuk menambah keseruan waktu lomba, tali gantungan kita buat dinamis ( digoyang – goyang pake tangan) biar ada tantangan saat makan kerupuk. Masak kondisinya sama dengan lomba anak – anak, kan ndak seru. Ini juga karena usulan lomba makan kerupuk dengan mata tertutup ditolak, jadilah mata tidak tertutup tapi talinya yang dibuat joget. Coba bayangkan bila mata tertutup, pasti seru tuh makan kerupuknya.

Satu hal yang pasti dalam acara lomba penuh kejutan seperti pagi ini, fotografer menjadi orang yang paling bahagia. Bahagia dengan momen dan ekspresi dari peserta lomba bisa jadi tidak akan pernah ditemui dalam keseharian. Acara pagi ini, sukses besar. Semua warga perkemahan terlibat dalam acara, dan semua tertawa lebar, bukan senyum lebar lagi.

Setelah krupuk yang terakhir habis termakan, kita foto bersama di depan spanduk ( acara standar tapi wajib ada) dan persiapan upacara penutupan.

Upacara dipimpin oleh Kak jaka, diawali dengan menyanyikan lagu kebangasaan Indonesia raya, dilanjutkan dengan pesan oleh kagudep ( Pak Tepe). Kemah kali ini ada yang istimewa, kami memiliki pita messenger of peace WOSM yang akan kita bagikan untuk tiska kemah. Kami baru saja bertemau dengan direktur WOSM, dan mereka memberikan banyak sekali pita messenger of peace. Dan kami anggap bahwa kemah pramuka kami yang juga membawa pesan perdamian.

 

Sampai jumpa kemah Februari 2016

Dengan segala keseruan yang ditawarkan WANT TO JOIN US?

 

 

 

 

 

 

 

Iklan