Kalimat penuh makna tersebut bisa diartikan menempatkan sesuatu sesuai dengan porsinya. Kurang lebih seperti itu

Menjelang ramadhan tahun ini, kebetulan sempat “cangkrukan” dengan seorang gus di daerah saya. Mengobrol banyak hal yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan kitab – kitab kuning yang njlimet. Hanya mengobrol seputaran hal yang kebetulan lagi ngetrend di beranda fesbuk saya, dan itu saya jadikan bahan omongan saja dari pada diajak ngobrol masalah kitab yang saya sendiri pusing melihat tulisannya.

Saya melontarkan sebuah pernyataan” Gus, sekarang ini kan banyak betul orang punya gelar habib, dan kadang pernghormatan yang diberikan itu kok menurut saya kadang terlalu berlebihan”

Halah sampeyan itu kok ya percaya saja sama habib – habib gitu, itu ada orang yaman asli jualan sate gule di kampong arab sebelah masjid jami’, dan dia juga heran kok ada istilah habib di Indonesia.

Sejenak saya bengong, wah ini pasti ada lanjutannya, ndak mungkin cuman begini. Dan betul dugaan saya, dia menyambungnya.

Sebenarnya begini lo, dia melanjutkan. Mereka itu, entah siapa yang memberi gelar kan dianggap mewarisi trah Nabi Muhammad, dan dengan nasab semulia itu tentu saja banyak orang yang cinta akan Nabinya tentu akan memuliakan semua hal yang berkaitan dengan sang Rosulullah. Lebih – lebih keturunannya.

Kemudian dia melanjutkan, analogi sederhananya seperti ini. Sejak kecil, bahkan waktu saya masih “grotal – gratul” membacara qur’an, banyak orang yang jauh lebih tua dan lebih pinter dari saya sudah memberikan perlakukan lebih buat saya dibandingkan dengan anak – anak yang lain. Dan nama saya dikasih embel – embel gus walaupun ayah ndak pernah ngasih nama anaknya Agus.

Sampeyan tahu kenapa? Segala perlakuan istimewa dan julukan istimewa yang dilekatkan pada saya pada dasarnya adalah imbas dari penghormatan mereka itu kepada ayah saya yang kyai. Jadi mereka menganggap bahwa penghormatan kepada kyainya itu juga termasuk menghormati segala hal yang melekat di kyainya, bahkan sandalnya saja ndak ada yang berani pake tanpa ijin. Apalagi kepada anaknya.

Jadi saya ini boleh dikatakan mendapat keramat gandul, panggilan gus dan keistimewaan yang saya terima sebenarnya lebih dikarenakan ayah saya itu, bukannya maqom dan kualitas diri saya layak untuk hal itu. Bukan sama sekali.

Nah maka dari itu, saya harus banyak belajar dan tirakat agar titel dan keistimewaan yang saya terima memang layak, bukan karena keramatnya ayah saya.

 

Mendengar penjelasan yang menghabiskan separo gelas kopi tersebut saya hanya menimpali “ oalah gus gus, sampeyan ini lo kalo jawab mbok ya yang simple gitu. Kata temen saya, mbok kalimatnya yang membumi gitu, biar gampang dipahami”

Dia meringis sambil menjawab, ya intinya gini lo, kalo seorang habib diperlakukan istimewa, sebetulnya kita itu sedang menghormati Nabi Muhammad. Bisa dibayangkan marahnya nabi kalo perlakuan kita kurang ajar terhadap keluarganya. Jangan keluarganya,temannya di kurang ajari saja beliau marah, lebih marah daripada sikap kurang ajar yang diterimanya sendiri.

Bapak sampeyan ngamuk kan kalo sampeyan kurang ajar sama ayah saya? Hehehe

Ya iya lah gus, wong bapak sampeyan itu temannya, bisa ngamuk itu.

Lah, ngerti gitu lo

Iklan