Untitled111

Sekitar 3 minggu lagi hari pelaksanaan Jambore Jatim 2014..(eh namanya bener jamboree jatim atau jamboree daerah jatim?), rasanya tepat kalau membagi sistem pengelolaan resiko nantinya di jamboree. Siapa tau nanti dapat umpan lambung eh umpan balik yang bagus untuk membuat sistemnya.

Manajemen resiko di jamboree kali ini melibatkan 3 pihak yang paling berperan dalam pelaksanaan segala aktifitas di jamboree; panitia, pengisi kegiatan serta pembina pendamping adik – adik peserta. Ketiga elemen inilah yang memegang peranan penting suksesnya penerapan manajemen resiko di jamboree nantinya, karena merekalah nanti yang akan menjadi fasilitator dalam penerapan system ini. Tim manajemen resiko atau bisa disingkat tim manris yang di kwarda sekarang ini teman – teman kami memanggil dengan nama risk management team ( purasaku kok keminggris yo) hanya akan menjadi administrator yang mempersiapkan system dan menjadi pendamping bagi semua pihak agar hal ini bisa berjalan.

Dalam manajemen resiko jamboree Jatim 2014 ini Ada 5 hal yang dilakukan selama penyelenggaraan jamboree jatim 2014, dan dari kelima hal tersebut 3 diantaranya sudah dilakukan oleh tim manris, kelima hal tersebut adalah ;

  1. Menentukan sumber resiko

 Sumber resiko yang dipetakan dalam Jambore Jatim 2014 kali ini terdiri dari 3 aspek : manusia, peralatan dan lingkungan. Ketiga hal ini saling berkaitan dan mendukung dalam menentukan resiko yang dimiliki oleh setiap kegiatan. Kami harus bertemu dengan para penanggung jawab kegiatan ( menurut data ada 40 ragam kegiatan di Jambore jatim 2014) untuk melihat potensi resiko yang bisa ditimbulkan oleh ketiga factor tersebut. Sebagai administrator resiko Jambore Jatim 2014, tim sudah menyiapkan form dan panduan untuk melihat sumber resiko yang ada dalam kegiatan.

 

  1. Melakukan penilaian resiko

 Penilaian resiko harus dibuat oleh fasilitator kegiatan dibantu dengan tim manris, hal ini dikarenakan fasilitator kegiatan yang paling mengerti tahapan pelaksanaan, kondisi lapangan dan syarat minimum yang harus dimiliki oleh peserta maupun instrukturnya agar kegiatan dapat berlangsung dengan aman, nyaman dan menggembirakan.

 Dengan melihat sumber resiko yang ada ( manusia, alat dan lingkungan) level resiko sebuah kegiatan bisa dibuat untuk menentukan tindakan seperti apa untuk mencegah/menanggulangi agar tidak terjadi insiden akibat sumber resiko tersebut. Dalam penilaian resiko, insiden yang terjadi pasti memilik dampak yang harus dihitung, nah dampak tersebut dihitung dalam 3 hal, yaitu : dampak administrasi,biaya yang timbul dan cedera ( manusia). Semakin besar dampak yang ditimbulkan, maka level resiko kegiatan tersebut semakin tinggi. Namun bukan berarti kegiatan tidak boleh dilaksanakan, namun harus ada perlakukan khusus yang harus dilakukan agar hal tersebut tidak terjadi.

 Kami, administrator mengerti bahwa melakukan hal ini bukanlah hal yang mudah, namun kami siap bertemu dengan semua pengisi kegiatan dan berkomitmen untuk membantu membuat analisa resiko kegiatan mereka

 

  1. Membuat SOP

 SOP untuk manajemen resiko perkemahan sudah dibuat oleh administrator, termasuk panduan dan pesan keselamatan dalam berkegiatan. Panduan ini nantinya berlaku untuk semua pihak yang terlibat dalam Jambore Jatim 2014.

 Kami berencana untuk menjadikannya sebagai salah satu isi dalam buku panduan kegiatan Jambore Jatim 2014 ( kalau sempat hehehhe). Kalaupun tidak, maka akan kita usahakan bahwa panduan ini bisa diketahui oleh semua orang diJambore Jatim 2014. Bisa melalui papan pengumuman, ataupun berupa bendel tersendiri.

 

  1. Rencana tindak darurat

 Rencana tindak darurat ( emergency planning plan) merupakan rencana jangka pendek dan hanya dilakukan saat kondisi darurat.  Rencana ini berisi mengenai kondisi darurat dan siapa yang berhak menyatakannya,personel yang tergabung dalam ( ERT : emergency response team), tugas – tugasnya, jalur evakuasi, tahapan pelaksanaan, tahapan pelaksanaan, petugas yang berhak mengeluarkan pernyataan resmi terkait hal ini dan kapan kondisi darurat berakhir.

 Sebagai administrator, tim manris wajib untuk membuat rencana tindak darurat dan mensosialisasikan kepada semua orang yang terlibat untuk memudahkan penerapannya saat di lapangan.

  

  1. Dokumentasi manajemen resiko

 Semua hal yang dalam manajemen resiko harus didokumentasikan agar bisa dijadikan bahan evaluasi serta sumber administrasi legal bila ada insiden yang terjadi. Dengan dokumen yang terarsip dengan baik, sebuah kegiatan akan memiliki bukti tertulis bahwa insiden yang terjadi bukanlah sebuah kelalaian apalagi kesengajaan dari pelaksana kegiatan. Dokumen inilah yang juga akan menjadi dasar hukum bahwa kegiatan yang dilaksanakan telah melalui proses dengan benar, sesuai dengan kaidah yang berlaku dan dilakukan oleh orang yang berkompeten di bidangnya.

 Untuk Jambore Jatim 2014, administrator menyiapkan 13 form. Tidak semua form tersebut diisi oleh pelaksana kegiatan ( penanggung jawab), namun juga form untuk Pembina pendamping, panitia dan form yang harus diisi oleh administrator pun juga ada. Dengan begitu semua pihak berkomitmen bersama untuk menjadikan Jambore Jatim 2014 ini kegiatan yang aman, nyaman dan gembira.

 Tim manris akan mendampingi dan memfasilitasi bagi semua pihak bagaimana cara mengisi dan menggunakan form tersebut.

 

BESAR HARAPAN KAMI, KEGIATAN JAMBORE JATIM 2014 TERSELENGGARA DENGAN AMAN BAGI PESERTA, ALAT DAN LINGKUNGANNYA.

“That is what risk management created for “

 

 

 

 

Iklan