Saya menulis ini karena tidak tega melihat “manusia – manusia mini ” (baca anak SD) harus membawa beban seberat para pendaki gunung serta disbukkan dengan berbagai macam les dan kursus yang membuat mereka hidup seperti robot akademik dan kehilangan waktu untuk sekedar bermain layang – layang,gundu, petak umpet bahkan mengejar capung ataupun kupu – kupu

Tahun ajaran baru akan segera tiba menyusul berakhirnya ujian nasional bagi sekolah. Diwaktu anak – anak merayakan waktu liburannya dengan bersuka cita, disisi lain banyak orang tua yang pusing kepala mengenai sekolah anaknya mendatang. Ini terjadi lo pada temen saya sekantor, saya aja yang denger jadi ngeri sendiri, kayaknya susah banget cari sekolah. Mulai dari yang bergadang mantengin PSB online di negeri dengan bandwith pas – pas ini,hingga melatih kesabaran dari subuh demi mendapatkan jatah kursi. Denger ceritanya aja udah males, perasaan dulu jaman saya sekolah nggak gitu – gitu amat ya. Ini cerita mereka yang ngejar bangku di SMP/SMA, nah lain lagi juga cerita tetangga meja di kantor yang mau mendaftarkan anaknya masuk SD. Nggak kalah ribetnya ternyata, dia khawatir anaknya tidak akan masuk SD karena masih kesulitan membaca dan berhitung. Lah, ini yang aneh saya bilang, bukannya SD merupakan tempat untuk mengajarkan anak membaca,menulis dan berhitung? Terus terang ini bukan pendapat saya personal, tapi kata temen saya yang dulu sekolahnya di UNESA dan jurusannya pendidikan.

Saya percaya begitu saja wong dia sekolahnya bagian itu, pasti jauh lebih tau daripada saya yang sekolahnya di bilangan keputih sana. Namun pada dasarnya, saya sepakat dengan konsep tersebut mengingat usia sebelum masuk SD, kira – kira kurang dari 6 tahun lah sepertinya terlalu memaksakan bila diharuskan “mahir” membaca,menulis dan berhitung. Mahir dalam ukuran anak – anak lo ya. Dalam pandangan saya dunia anak – anak adalah dunia bermain dan bersenang – senang, proses belajarnya akan tumbuh seiring dengan bertambahnya usia dan pengalamannya. Dengan usia 0 – 6 tahun, anak – anak akan mungkin akan belajar mengenal angka dan huruf, kemudian merangkainya berdasarkan logika yang mereka miliki. Apa salah kalau ada yang memasukkan balitanya untuk belajar aritmatika dasar di TK? Nah ini pertanyaan agak menjebak hehehehehe kita harus melihat dari berbagai aspek dan sudut pandang. Bila merujuk pada psikolog yang menyatakan bahwa dunia 0 – 6 tahun adalah dunia bermain dan waktu bagi anak untuk mengenal lingkungan sekitar, maka saya menjawab salah. Itu menurut saya lo ya, karena apa?terus terang saya tidak mau merebut masa bermain yang harusnya mereka miliki dan menggantinya dengan “bermain teknik berhitung” hehhehehehe

Kalau dalam rentang waktu tersebut mereka banyak bermain, nanti akan kesulitan ketika mau masuk sekolah dasar? Waktu di tes nggak lulus? Hmm iya juga ya. Ini seperti kekhawatiran yang dimiliki oleh teman saya di awal tulisan ini. Mungkin perlu dipahami oleh seluruh orang tua bahwa SD itu tugasnya mengajarkan anak menulis dan berhitung, kalau ada anak yang tidak bisa calistung ( baca tulis dan hitung) masuk SD, maka sekolah bertanggung jawab nantinya anak tersebut harus menguasai hal tersebut. Pemerintah sebenarnya sudah membuat road map tentang bagaiman sebuah sekolah dasar, yang diterbitkan dalam PP no. 17 tahun 2010 dimana dalam salah satu pasalnya melarang sekolah dasar untuk melakukan seleksi penerimaan bagi siswa baru. Ini saya lampirkan isinya :

Berikut sebagian bunyi PP 17 tahun 2010:

Pasal 69 :

(5) Penerimaan peserta didik kelas 1 (satu) SD/MI atau bentuk lain yang sederajat tidak didasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, atau bentuk tes lain.

Pasal 70 :

(1) Dalam hal jumlah calon peserta didik melebihi daya tampung satuan pendidikan, maka pemilihan peserta didik pada SD/MI berdasarkan pada usia calon peserta didik dengan prioritas dari yang paling tua.

(2) Jika usia calon peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sama, maka penentuan peserta didik didasarkan pada jarak tempat tinggal calon peserta didik yang paling dekat dengan satuan pendidikan.

(3) Jika usia dan/atau jarak tempat tinggal calon peserta didik dengan satuan pendidikan             sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sama, maka peserta didik yang mendaftar lebih awal diprioritaskan

Nah lo, sudah ada buktinya bahwa harusnya  masuk sekolah dasar tinggal masuk aja, asalkan usianya sesuai. Wong masih anak – anak kok diajak stress berjamaah dengan mengikuti ujian masuk. Lalu bagaimana dengan kenyataan yang ada di lapangan bahwa untuk masuk sekolah dasar negeri/swasta, apalagi yang favorit pasti ada ujian masuk? Berarti ini yang nggak bener pemerintahnya apa sekolahnya??

Tanyakan pada rumput yang bergoyang, itu kata mas Ebiet

” ketika seseorang sudah puas bermain pada masa kecilnya, maka dia tidak akan lagi bermain – main di masa dewasanya”

Iklan