Setelah beberapa minggu ini tidak begitu bersemangan nulis, akhirnya selesai juga satu artikel buat genderang edisi April (semoga bener hehehe). BBM naik, kemungkinan inflasi juga naik secara otomatis harga barang juga naik dan pendapatan yang segitu – gitu aja…… Berhenti mengeluh, kerja yang bener, berhemat dan jangan bikin susah orang lain.

PENILAIAN RESIKO (RISK ASSESSMENT)

Dalam melakukan pengelolaan resiko berkegiatan di alam terbuka, kebijakan yang diambil didasarkan pada penilaian terhadap resiko yang sudah diidentifikasi. Semakin detail dan mendalam dalam melakukan penilaian resiko maka akan lebih mudah dalam melakukan pengelolaannya, oleh sebab itu penilaian resiko dari sebuah kegiatan sebaiknya dilakukan oleh sebuah tim yang terdiri dari pakar, pengambil kebijakan dan praktisi professional dalam bidang tersebut. Untuk sebuah kegiatan pramuka seharusnya kita tidak kesulitan mencari pakar yang ahli dalam hal tersebut, namun yang menjadi kesulitan tersendiri adalah tidak adanya sebuah data yang bisa dijadikan panduan dalam melakukan penilaian sebuah resiko.

Ambil contoh sederhanya seperti ini, dalam sebuah kegiatan safari camp lomba tingkat penggalang katakanlah 3 lomba terakhir, berapa kali peserta kehilangan arah atau salah dalam mengintepretasikan tanda petunjuk. Anda semua boleh cek di kwarda atau kwarnas bila perlu, apakah bidang waslitev memiliki data seperti ini? Nah, data inilah yang menjadi dasar poin penting dalam menentukan nilai sebuah resiko, apakah bisa dikatakan high risk atau tidak.

Pada tahun 1986, Martin and Priest mengembangkan sebuah model mengenai derajat resiko sebuah aktifitas luar ruangan. Melalui penelitian terhadap respon yang diberikan oleh peserta mengenai kegiatan yang mereka laksanakan, terciptalah model yang disebut Adventure Experience Paradigm (AEP diagram)

AEP diagram " MArtin and Priest,1986"

AEP diagram " Martin and Priest,1986"

 

 

No

Level

Deskripsi

1

Experiment

Level kegiatan yang sangat mudah, dimana skill peserta jauh diatas tingkat kesulitan kegiatan

 

2

Adventure

Level kegiatan memungkinkan peserta menggunakan skillnya lebih jauh,sehingga menimbulkan semangat dan kegairahan saat melakukan kegiatan

 

3

Peak adventure

Level kesulitan yang ditawarkan memaksa peserta hingga batas kemampuan mereka. Bila sukses terlaksana, maka akan jadi pengalaman yang memuaskan,namun kecenderungan resiko terjadinya insidencukup besar

 

4

Over adventure

Kegiatan yang bila dilaksanakan akan menghasilkan efek negatif ( takut,panik dll), bila terjadi insiden, cedera yang dihasilkan sangat parah

 

5

Disaster

KEGIATAN INI JANGAN DILAKSANAKAN

 

 

Dengan model ini kita bisa melihat kegiatan yang kita laksanakan masuk dalam daerah yang mana. Hal ini bisa tercapai jika kita memiliki data mengenai insiden yang telah terjadi serta dampak yang ditimbulkan karena insiden tersebut. Dari diagram di atas kita bisa menentukan sebuah aktifitas akan menjadi bencana bila dilakukan oleh orang yang tidak memiliki kompetensi cukup, namun juga bila kita mengadakan kegiatan yang tidak terlalu “menantang” dilakukan oleh orang yang skillnya cukup tinggi akan menjadi sebuah percobaan, mungkin untuk menentukan teknik baru atau simulasi.

Faktor – factor yang terlibat dalam membuat penilaian resiko selain potensi bahaya yang sudah kita identifikasi dapat digolongkan menjadi komptensi dan resiko:

 

KOMPETENSI

RESIKO

1

Individu Lingkungan

2

Skill/kemampuan Situasi

3

Pengetahuan Kesulitan

4

Perilaku Tantangan

 

Penilaian resiko sebisa mungkin dibuat secara mendetail untuk memperoleh hasil yang komprehensif, jika perlu buatlah batasan dengan rentang yang sangat lebar; contoh untuk skill, kita buat dari yang pemula hingga professional. Factor – factor tersebut sebaiknya dibuat analisa untuk tiap aktifitas yang akan dilaksanakan; contoh bila kita akan melakukan repling, lihatlah siapa yang akan melaksanakan, bagaimana kemampuannya, pengalamannya, kondisi peralatan, hujan atau tidak, kesulitannya, serta perilaku orang – orang tersebut. Dengan menjawab pertanyaan di atas, kita akan mempunyai dasar untuk menentukan derajat bahaya kegiatan tersebut. Bila sudah dilakukan buatlah table konsekuensi dan kemungkinan atas resiko tersebut.

KONSEKUENSI

Level

Dampak pada kegiatan

Biaya yang ditimbulkan

Cidera

1

     

2

     

3

     

4

     

5

     

 

KEMUNGKINAN

Level

Jumlah kejadian

1

 

2

 

3

 

4

 

5

 

 

Nah apabila sudah selesai membuat table tersebut,maka kita bisa membuat level resiko dari kegiatan yang akan dilaksanakan. Resiko=kemungkinan x konsekuensi,  dapat dibuat dalam bentuk matriks resiko :

Katastropik

(5)

5

10

15

20

25

Major

(4)

4

8

12

16

20

Sedang

(3)

3

6

9

12

15

Minor

(2)

2

4

6

8

10

Tidak signifikan (1)

1

2

3

4

5

 

Jarang

(1)

Kemungkinan ada ( 2 )

Kadang – kadang (3)

Sering

(4)

Selalu

(5)

jadi semakin tinggi nilainya maka makin tinggi pula resikonya sehingga penanganannya pun harus lebih agar kegiatan terlaksana dengan aman.  Nah bila sudah memiliki matriks seperti ini, kita bisa menggolongkan menjadi 3 atau 4 level resiko. Disini digambarkan dibagi menjadi 3 level saja, yaitu rendah,menengah dan tinggi.

  Rendah : diperlukan pengawasan untuk menjaga resiko tetap rendah

 

  Menengah : dalam beberapa hal, pendekatan khusus harus dilakukan untuk menjaga level resiko tetap menengah
  Tinggi : memerlukan perlakukan, kualifikasi dan pendekatan khusus serta prioritas kebijakan

 

Dengan bentuk penilaian seperti ini, setiap orang akan mudah melihat seberapa besar resiko yang akan dihadapi bila melakukan aktifitas tersebut. Professional, amatir, pengambil kebijakan bahkan penonton pun akan memiliki koridor yang sama dalam melihat nilai sebuah resiko. Jadi tidak berdasarkan seberapa nekat dan berpengalamannya seseorang.

 

 

 

Iklan