Saya sungguh bersyukur karena memiliki pekerjaan yang memungkinkan untuk berkeliling Indonesia, mulai kota besarnya hingga lokasi terpencil yang amat sangat susah mencapainya, bahkan luar Indonesia pula.  

Tanjung Satui, atau orang biasa juga menyebutnya dengan Setui. Entah mana yang benar, karena kunjungan saya ke tempat ini tidak terlalu lama, menginjak tanahnya pun hitungan jam, jadi mana sempat untuk melakukan riset mendetail. Hanya asal tanya untuk mengobati penasaran aja. Awalnya saya mengira perjalanan saya hanya ke Banjarmasin, sehingga sempat terbayang mampir martapura untuk memberlikan batu permata buat istri, ternyata prediksi salah hehehehehe. Lokasi yang saya harus datangi adalah sebuah pelabuhan batu bara. Wah ini keren kayaknya, coba lihat aja iklan milik perusahaan batu bara di media, bagus banget toh.

Tanjung Setui

Tanjung Setui

“Kita besok ke Setui pak, berangkat pagi – pagi karena lokasi kapalnya sekitar 6 jam dari sini.” Bloody hell, 6 jam perjalanan darat. Menurut cerita orang – orang, tidak ada jalan trans Kalimantan yang mulus kayak tol Surabaya – malang. Tapi gpp juga kalo kita ke sono naik innova, lumayan luas lah dan nyaman pula mobilnya hehehehe. Itu harapan saya karena malam itu yang jemput pake kijang innova. Pagi harinya saya sudah longok – longok depan lobi, mana innova gold yang tadi malam ya, kok belum tampak juga. Yang ada juga kijang LGX butut warna biru dengan driver bergaya metal, dengan gaya bicara blak – blakan. Nah bener juga firasat, kenceng banget waktu bawa mobilnya. Gila nih orang, jalan jelek sempit gini masih sempet – sempetnya nyalip truk dan bis. When this project finished, I’m gonna have back ache.

Sepanjang perjalanan hingga Banjar Baru, saya menyaksikan pemandangan kota yang membosankan, banyak ruko dan tata bangunan yang asal berdiri serta selokan selebar anak gajah yang terbuka. Sepertinya kota – kota di Indonesia mempunyai pola yang sama pembangunannya, mau di Jawa, Sulawesi, Sumatra bahkan Kalimantan. Jurusan arsitektur dan perencanaan wilayah kota kayaknya perlu diragukan keberadaannya di Negara kita hehehehe masak kota kok ndak nyeni blas * yang merasa jurusan di atas piss men*. Hanya pemukiman sungai yang khas menjadi pembeda dengan kota – kota laian di Indonesia. Rumah kayu yang langsung berhadapan dengan sungai, lengkap dengan sampan. Hanya sayang masih banyak masyarakat sungai yang masih belum memiliki MCK standart, terlihat dari banyak spanduk dan baliho besar – besar berisi imbauan untuk menghentikan aktifitas MCK di sungai, dan mulai membangun MCK permanen di rumahnya. Antara percaya dengan tidak juga dengan iklan pemerintah daerah macam ini, masak ibu kota propinisi masih ada juga yang belum memiliki fasilitas MCK. Tengah kota lagi!!!

Masalah kualitas jalan raya, tidak jauh berbeda dengan jalan umum yang ada di kota lain, termasuk Surbaya. Hujan datang, banjirpun menggenang. Jalan berlobang nan bergelombang pun setali tiga uang dengan ruwetnya lalu lintas.

Setelah lepas dari Banjar Baru hamparan bumi mulai menawarkan pemandangan khas tanah Kalimantan, rawa – rawa dengan rumah panggung yang terbuat dari kayu. Sembari menyetir, sopir kami menjelaskan bahwa rumah pangggung sekarang tidak lagi terbuat dari kayu ulin, tapi mernati. Kenapa Pak? Udah punah ya. Nggak juga sih pak, susah aja sekarang carinya, lagian kayu yang lain lebih gampang dapetnya. Hmm.. bener juga sih. Sayang tidak sempat ambil foto, maklum Cuma bawa kamera pocket, maksain moto ntar malah jadi mirip lukisan abstrak. Pemandangan yang lebih keren lagi adalah, antrian kendaraan di SPBU yang puanjang, kayaknya minyak langka betul disini ya. “Itu antri solar pak, kebanyakan truk – truk tambang kecil membeli solar di SPBU, karena lebih murah dari pada solar industry, jadinya stok solar di Kalsel cepat habis.” Begitu jawab pak sopir metal kami. Pantas aja republik ini ndak maju – maju, mental pengusahanya aja mental garong, apa lagi pejabatnya hehehehe timpal teman saya.

Di perjalanan ini pula menjadi penegasan pendapat saya bahwa orang India itu menyebalkan ( pembenaran hehehehe),  kebetulan kami semobil dengan superintenden asal India. Saat saya minta singgah dimana saja yang penting jual air minum, eehh dia protes. “ Why are we stop here?” . Saya jawab ngasal aja sambil buka pintu mobil, “I am thirsty!” dia ngliatin saya dengan tampang bête, temen saya bilang, wah ngamuk iku dit, halah babahno. Pas mobil sudah jalan beberapa saat, eh dia bilang “ Can you pass the water?” sambil memberikan botol air minum, temen saya berbisik “ c*k, nggatheli wong iki!!! Saya senyum lalu tertawa hehehehehehe

Nih dermaga kalo mau naik boat, akrobat dulu

 

Satui merupakan sebuah tanjung dengan banyak pohon bakau dan nipah yang merupakan dermaga bagi kapal tongkang pengangkut Batubara. Jadi di tengah laut, terdapat kapal yang ukurannya gede banget, kira – kira 2 kali panjang lapangan senayan nungguin. Nah di kapal inilah nanti tugas saya, jadi masih 2 jam dari dermaga kecil ndak mutu ini. Ini duitnya pada dikemanain ya, masak mirip dermaga nambangan di darmo kali hehehehehe. Angkutan yang umum bagi masyarakat di sini adalah speed boat, atau kalau boleh dibilang mata pencaharian mereka mengantarkan orang yang mau pergi ke kapal yang tidak memungkinkan berlabuh di tanjung ini.

Saya sempat singgah di kampungnya, karena boat yang kami tumpangi kebetulan mogok dan harus ditarik, kemudian tukar dengan boat yang lain. Sebuah kampung yang sangat sederhana dan damai, kayaknya enak ini buat kemah.  Sembari iseng membeli sebungkus biscuit kelapa yang cuman satu – satunya di warung yang saya temui, saya bertanya pada ibu  penjualnya. Bu, kalau mau sekolah kemana? Oohhh ada pak, tapi naik ojek dulu disini tidak ada sekolah. Heeeee.. menembus hutan rawa – rawa hingga sampe jalan raya? Iya, disana sekolahnya. Ongkosnya 30 ribu.

Asoy bener drivernya

Hmmm perjuangan bener tuh bagi yang nggak punya motor. Sungguh ironi sebenarnya, desa nelayan dengan rumah panggung yang khas, LANAL sederhana yang menjaga keamanan dan kedaulatan laut kira berhadapan langsung dengan gunungan batubara yang hampir tiap jam hilir mudik melewati kampung tersebut. Emas hitam ini, hanya melewati Satui meninggalkan kepulan jelaga serta kerusakan rawa disekitarnya untuk menuju tujuan akhirnya di Jawa dan Cina!!! Saya tidak peduli batu bara itu mau di jual kemana, toh bukan urusan saya akan tetapi dengan potensi yang sedemikian besarnya seharusnya bisa memberikan duit yang tidak sedikit untuk membangun sebuah sekolah yang layak dan dermaga nan menawan bagi penduduk tanjung Setui yang mana banyak perusahaan dengan nama mentereng bercokol disana. Lalu kemana semua duitnyaaa?????

 

 

Iklan