Mendengar nama jamboree, mungkin sudah sangat familiar. Nama yang pertama kali diambil oleh pendiri pandu dunia ketika mengadakan kemah untuk pandu di Brownsea Island. Sekarang istilah ini menjadi cukup popular, semua kegiatan walaupun tidak berkemah pun disebut jamboree. Jamboree jeep ? mana ada jeep kemah, yang ada tidur di hotel, ngapain tidur tenda.

Nah gimana dengan camporee? Ini apa lagi, agak aneh rasanya di telinga saat orang mengucapkannya dengan logat jawa yang medok hehehhehe.. Menunggu jamboree yang siklus diadakannya laaama, 5 tahun sekali, kemudian biaya yang dikeluarkan juga tidak sedikit, bisa bosan tuh lama – lama. Kalo mau persami ya bisa kapan aja, tapi kelebihan mengikuti jamboree adalah peserta yang berasal dari berbagi pangkalan serta ragam kegiatan yang ditawarkan juga lebih banyak dari persami. Ide camporee ini sebenarnya merupakan persami yang umum diadakan di tiap pangkalan, namun kali ini pesertanya dari berbagai pangkalan. Kalo boleh dibilang gampangnya inilah jamboree kecil hehehhehehe

Camporee tidak hanya menawarkan suasana keragaman yang selama ini dihadirkan oleh jamboree, namun juga system pendidikan yang terintegrasi dengan program siklus pasukan penggalang. Kalo anda mau tau, panitia camporee adalah Pembina – Pembina pangkalan yang ikut serta dan semua yang ikut ambil bagian harus membayar camp fee. Termasuk panitia!!!! Halah soro banget yo, udah capek jadi panitia kok bayar!!! Nah kalo mau yang lebih ekstrim, silahkan anda daftar jadi panitia di jamboree dunia, bayr fee khusus panitia heheheh. Ini merupakan salah satu pendidikan yang diajarkan kepada adik – adik peserta bahwa gerakan pramuka ini merupakan sebuah organisasi mandiri yang segala kegiatannya dikelola oleh anggotanya, dan sebuah kegiatan ternyata bisa terlaksana apabila didukung oleh semua elemen yang teribat didalamnya. Nah kalo nggak ada dana gimana? Ya swadaya, kalo nggak punya duit? Ya nabung dong. Makanya persiapan kegaitan menjadi amat penting. Sebuah cerita dari peserta yang membuat kita – kita tersenyum, betapa bangganya mereka nabung, bahkan membuat hasta karya kemudian dijual untuk mendapat uang saku sehingga bisa berangkat ke camporee. Nah sebenernya, jamboree itu dibuat dalam rentang waktu yang lama kan member waktu nabung bagi yang mau ikut.

Camporee kemarin mengambil lokasi di trawas, di YPPI. Menurut saya, ni lokasi bagus banget buat kegiatan berkemah, kalo dipasang 30 – 40 tenda pun masih memungkinkan. Lapangan terbuka yang tersedia pun cukup banyak, dan yang paling penting adalah sumber air bersih serta MCK yang memadai. Gerbang masuk ke loaksi main camp terbuat dari bamboo yang biasanya dipakai sebagai gawang sepak bola hehehhehe, tapi dihias dikit. Pertama kali melewatinya nggak nyadar, apalagi kalo itu kesempatan pertama kali. Nah berhubung saya udah beberapa kali jadi tau kalo itu sebenernya gawang sepak bola.  Kemudian masuk ke area sub camp, disambut lagi dengan spanduk subcamp. Penataan subcampnya pun cukup elegan, ada kawasan yang tercipta dalam area subcamp, dan jarak dengan subcamp lainnya pun ada. Nggak ngumpul deket – deketan gitu.  Jadi saat masuk area sub camp akan terasa bahwa kita sedang memasuki sebuah kawasan. Inilah pembelajaran tentang hidup bermasyarakat kepada generasi muda, dimana harus ada aturan subcamp yang dipatuhi oleh penghuninya, setiap warga subcamp harus ikut menjaga subcampnya dan membuat subcampnya menjadi area yang enak untuk berkemah. Kan ga enak tuh kalo kemah di subcamp yang kotor, berisik trus banyak malingnya, iya nggak? Sama dengan apa yang terjadi dalam kehidupan sebenarnya di lingkungan masyarakat, dimana kita juga harus berperan dalam menciptakan lingkungan yang nyaman bagi semua orang.

push and GO!!!!!!

Berbagai kegiatan dilangsungkan disini, water rocket, aeromodelling, penjelajahan dan bahkan mengolah bahan pangan alias masak. Ahh… betapa gembiranya masa penggalang, jadi inget waktu masih penggalang dulu, tidak peduli berapa banyak kegiatan harus diikuti, yang penting senang hehehhehehe. Mereka dengan gembira merakit botol – botol bekas air mineral kemudian melengkapinya dengan fin dari foam kemudian menghiasnya menjadi sebuah roket. Ya roket!!! Lihatlah juga ketekunan mereka dalam memotong stereo foam sehinga menjadi bentuk – bentuk aerofoil sayap pesawat yang akan menjadi sebuah glider. atau bahkan , sebuah sambal goreng yang rasanya juga tidak mengecewakan, hasil dari olahan mereka. Yang masak pun masih SD.

air borne

"hoi iku sing gosong duduk nggonku lo yo"

Harusnya seperti inilah kemah pramuka, semua yang hadir ikut berperan serta. Boleh jadi peserta, Pembina, panitia ataupun instruktur kegiatan. Semua orang membagi pengalaman dan ilmunya untuk belajar bersama dalam sebuah forum kegiatan alam terbuka. Bukankah kegiatan merupakan alat pembelajaran dalam organisasi kepanduan.

Iklan