Dini hari  01.30 , senin 3 mei 2010 ada sms dari m lita, yahhh pagi bener, jadi ga bangun. Baru melek abis subuh, tulisannya sungguh membuat shock ”innalilahi mas mbing meninggal yik, dalam perjalan KL-Male”. Hah, I do not believe it. Tapi ternyata kabar duka itu bener, mas mbing telah berpulang ke rahmatullah. Innalilahi wa innailaihi roji’un, we have lost one of the great name.

Mas mbing merupakan sosok yang sangat sangat menyenangkan, merupakan orang yang paling luwes yang pernah saya kenal. Mas mbing bisa dengan mudah bergaul dengan berbagai kalangan, mulai birokrat yang kaku hingga pedagang di pasar loak gembong. Yup, mas mbing adalah salah satu pengunjung setia pasar ini. Bahkan hari minggu, sehari sebelum keberangkatannya ke Maldives “ mas, enek sepatu merk Columbia, tapi neng Singapura larang, lek kurs kene sekitar 2 jt.” Mas mbing bilang “ apik yo, iyo terkenal iku Columbia, yo ngko lah golek”. Wahh.. iki pasti arep neng nggembong hehehehehhe

Tapi mas mbing sangat memperhatikan akan penampilan partner, pertengahan tahun 2004 saya sedang di rumah tiba – tiba ada telp, pas diangkat langsung bilang “ original, leather, 41, 50 thousands, gimana?” hah, opo iki????? Ternyata dia lagi di gembong trus lihat sepatu boot reebok seri outdoor. ”apik iki yik, cocok gawe awakmu lek mimpin out bound”, begitu katanya. Dan memang, keren juga hehehehehe

Mas mbing merupakan seorang tokoh pembaharu, pemikiran yang super kreatif dengan gaya penyajian yang eksentrik merupakan ciri khasnya. Selalu terbuka akan pendapat dan penilaian orang lain. Awal masuk DKD dulu, tahun 2002 saya terlibat secara tidak sengaja dalam persiapan LT5 dan jamboree dunia. Disitu yang menjadi penanggung jawab latihan adalah mas mbing. Ketika saya tiba, kemudian langsung ditanya ” Ayik punya ide untuk mengisi morning session”? Itu adalah sebuah penghargaan bagi saya.

Keakraban semakin terjalin ketika di akhir 2003 sepulang dari Inggris, diajak bergabung membantu out bound tim Dilibas. Setelah itu berlanjut dengan seri – seri outbound yang lain dibawah bendera Dilibas maupun Talenta. Mas mbing merupakan bos yang super keren sewaktu di Talenta, dan saya merasa di Talenta inilah sebuah learning organisation yang sebenarnya. Di Talenta dalam mengadakan outbound selalu ditekankan bahwa kita harus memberikan kesempatan belajar bagi siapapun. Rasanya hati kurang puas ketika ada salah satu sesi yang tidak bisa terlaksana atau tidak maksimal dalam mendapatkan nilai belajar. ” eman waktu karo waktune ambek duite yik lek gak maksimal pelatihane,sakne peserta” itulah yang selalu dikatakannya bila kurang maksimal proses pembelajarannya. Kalo anda bertanya seberapa seringkah talenta outbound? Hmmm.. salah satu yang berkesan adalah saya pernah satu minggu tidak pulang karena outbound di 3 tempat yang berbeda, dan satu lagi 5 kali weekend di 5 hotel yang berbeda dalam 1 bulan hehehehhehehe.

Dalam outbound itulah mas mbing selalu membawakan semangat perubahan bagi sipapun juga, baik peserta atau kita – kita yang fasilitator. Berubah, berubah dan berubah.

Hari – hari bersama mas mbing merupakan hari penuh keceriaan, senyum dan ngguyu adalah menu wajib. Dalam canda tawa itulah ide – ide gila sebuah aktifitas terlontar. Sungguh sebuah forum kreatifitas.

Ada banyak hal yang bisa ditulis mengenai seorang jenius bernama Bambang Pramuka Putra, yang lebih dikenal dengan nama panggilan akrabnya Mbing ato dilingkungan Talenta biasa kita memanggilnya meneer Mbing, meneer Brambang. Mas mbing meninggalkan sebuah warisan yang keren punya, semangat pembaharu dan jiwa untuk mengembangkan pendidikan bagi semua. Dia sering bilang ” education for all”, yup pendidikan haruslah tidak ekslusif.

Selamat jalan mas mbing, sekarang kamilah generasi muda hasil didikanmu yang akan melanjutkan cita – citamu memberikan kesempatan belajar bagi setiap orang. Saya sangat bangga pernah belajar dan berpartner dengan anda.

Nb: berikut adalah beberapa kesablengan kita bareng mas mbing

  • Suatu pagi pk. 04:30 di Dharmaningsih – Pacet,mas mbing dah bangun sementara saya sama mas puguh males – malesan bangun. Adem yoooo. Mas mbing bilang ” ayo bangun2, saya tempeleng satu – satu nanti!!”. Trus aku bilang “ yo wis gpp mas sampeyan tempeleng, tapi aku tak tangi jam 8”. Mas puguh menimpali ” yo wis mas aku tangi jam 9, ditempeleng ping pisan kan? Trus mas mbing bilang ” hoi ojo ngawur, ayo po’o rek tangio ta, sesine mulai jam 5:30 lo” sambil ngerayu kita untuk bangun Hahahahaha
  • Tahun 2004, upacara HUT pramuka diadakan di lap. Rampal malang, memecahkan rekor MURI untuk peserta upacara terbanyak 26 ribu peserta. Ketika itu saya, mas mbing sama mas arif sedang berdiri di dekat podium. Mas mbing bilang ” yik, orang yang memakai wing itu kan hanya untuk menunjukkan ketidakberdayaannya,jadi harus memakai wing supaya gagah dan disegani orang. Lek aku kan wis keren, dadi gak perlu wing” sambil menunjuk ke mas arif yang memakai wing paralayangnya. Mas arif diem aja, masih sibuk cari kalimat untuk membalas, tiba – tiba ada suara ” loh kak Bambang, saya begini ini nyelam betulan lo, di bawah kapal perang dan melewati ranjau – ranjau laut. Nggak main – main” ternyata kak Tri Hartini (kol.purn AL) yang menimpali. Wuah akhirnya yang semula cuman becanda – becanda, jadi serius bahas wing.
  • Waktu dania (putrinya mas mbing) masih bayi, dia masih bisa ditaruh keranjang bayi tentengan, jadi bisa ditenteng kemana – mana. Hari sabtu mas mbing kontak, yik, guh mene survey gawe outbound minggu ngarep yo. Kita berangkat survey berlima, saya, mas puguh,mas mbing,mbak nisa dan dania. Keranjng dania ditaruh ditepi jalan sedangkan kita masuk ke lokai hutan untuk cari lokasi. Untung ga diolong orang bayinya. Setalah selesai kita buat petanya dan untuk sesi apa saja. Sip deh pokoknya. Pas hari pelaksanaan, semua sesinya diubah dan lokasinya beda dengan apa yang kita survey. Trus opo gunane wingi mbrasak – mbrask survey? Jawabnya” yo mlaku – mlaku rek”. Hmm ga salah juga sih
Iklan