Saya termasuk sedikit orang yang beruntung karena bisa menikmati bepergian, bahkan dengan jarak yang cukup jauh. Semua cara travelling pernah saya lakukan, berjalan kaki, “terpaksa berenang”, berdesakan dalam bus atau kereta ekonomi, hingga menikmati kenyamanan kursi business class dalam penerbangan ke eropa pun pernah saya rasakan. Hingga tadi malam,,saat seorang teman meminta untuk menuliskan pengalaman travelling saya yang paling ekstrem, bingunglah saya jadinya …. Waduh kok angle banget ya, karena hampir semua perjalanan yang saya lakukan menurut saya ekstrem. Dari merasakan keramahan warga kampung yang memberikan kami jagung satu karung saat kami hanya minta lima biji saja, minum air payau karena tidak menemukan air tawar hingga melarikan diri tengah malam dari kejaran para pemabuk yang mau malak saat di Inggris.
Tipuan mata yang sempurna
Perjalanan lintas medan menyusuri pantai merupakan lokasi yang cocok bagi mereka yang ingin belajar ilmu medan dan peta kompas. Garis pantai dengan teluk – teluknya membuat kita lebih mudah untuk menentukan posisi secara kasar. Saya pernah berlatih peta kompas di daerah selatan wilayah Tulungagung. Berangkat dari Besole sebagai poin pertama menuju pantai Gerangan. Saya bertanggung jawab untuk menentukan arah perjalanan sesuai dengan koordinat yang telah diberikan, bila salah menentukan besar derajat bidikan kompas, maka satu tim pasti ikut mencari jalan yang berbeda. Alias kesasar berjamaah hehehehe… enaknya jadi penentu nasib orang banyak.
Besole merupakan sentra industry batu marmer, hal ini didukung oleh banyaknya pegunungan kapur yang menjulang disekitarnya. Setelah memperoleh koordinat sasaran, kami membuat plotnya di peta topografi. Saya berkata “ harus naik ke bukit sebelah untuk mendapatkan bidikan yang pas”. Dari situ pemandangannya luar biasa, kontur tanahnya yang berbukit – bukit dengan rerumputan menghijau membuat saya berkata dalam hati “ Hmm pantesan Belanda betah banget disini, sialan juga meneer – meneer itu”. Orang boleh bilang padang rumput new Zealand atau Scotland sangat indah layaknya negeri dongeng, tapi yakinlah anda semua tidak akan mampu berdiri dengan nyamannya sembari menikmati sinar mentari dan belaian angin sejuk seperti yang sedang saya nikmati di pucuk bukit kecil ini. Perjalanan hingga menyeberangi lembah dan bukit didepan tidak ada masalah, karena saya didukung dengan pioneer yang luar biasa hebat dan cekatan. Walaupun dia seorang cewek berjilbab!
Metode yang saya pakai adalah menentukan sebuah obyek sejauh yang bisa saya lihat sesuai dengan derajat kompas, kemudian pioneer akan berjalan ke obyek sambil member kode apakah sudah sesuai dengan arah bidikan. Hingga samapilah pada dataran yang tertinggi di daerah tersebut. Tinggal jalan menurun yang terbentang di depan, Rumput berganti dengan ilalang menghampar di depan, nun di kejauhan terlihat hutan jati yang lebat. Berarti tinggal sedikit lagi sudah mencapai pantai. Masalah timbul disini, dengan ilalang yang lebih tinggi dari tubuh menyulitkan untuk membuat sebuah marking. Karena bentuk semua ilalang yang mirip dan orang tak akan terlihat ditengah rimbunnya ilalang tersebut.
Akhirnya saya putuskan untuk mengambil sebuah landmark yang terlihat kontras dengan warna hijau ilalang. Sebuah pohon palem (belakangan baru saya tahu bahwa itu adalah pohon Siwalan hehehe) di ujung dataran dibawah saya, persisi sebelum masuk hutan Jati. “Beneran? Gak terlalu jauh bidikannya” kata pioneer saya. Benar juga katanya, tapi tidak ada marking yang jelas tatkala pandangan terhalang oleh ilalang selain pohon palem itu. Dengan setengah berlari kami menuruni lereng landai tersebut, semakin lama jalan yang ada terhalang oleh ilalang dan ranting pohon perdu. Tapi sasaran kami jelas, cari pohon palem!!! Karena pohon itu yang berbeda dari sekian ribu tanaman di dataran ini. Keluar dari lilitan ilalang, kami sampai pada sebuah lahan kosong yang hanya ditumbuhi tanaman perdu setinggi lutut. Banyak bekas penebangan kayu disini, termasuk beberapa batang palem roboh. “Ehh, ada bekas pohon palem ditebang?ada berapa banyak pohon palem sebenarnya?” saya berkata dalam hati.
Ketakutan saya akhirnya terbukti, satu palem yang terlihat dari puncak bukit tadi ternyata terdiri dari berpuluh palem yang tertanam di area yang cukup luas. “Hmmm mati koen, palemnya banyak!!” kata teman – temana saya ketika sampai pada titik tersebut. Waahhhh… ini sih diluar perhitungan, karena tadi yang terlihat hanya satu palem. Saya baru sadar bahwa saya membidik palem – palem ini dari puncak bukit dimana ketika saya menolehnya terlihat amat jauh di belakang sana.
Saya berspekulasi ambil pohon palem yang ada ditengah sebagai titik bidik. Benar atau tidak itu urusan belakangan, yang jelas harus ada titik tolak yang harus dipakai. Paling tidak pohon palem di tengah – tengah bisa mewakili dengan seimbang bila ternyata poin bidikan yang terlihat dari bukit itu terletak dipinggir hehhehehehehe. Karena ini pula perjalanan kami molor hingga 3 jam dari waktu yang direncanakan karena harus mengatur ulang koordinat karena pergeseran titik bidik. Kesasar?? Pastilah, namun paling tidak sampai juga di pantai Gerangan sebagi tim pertama, karena dua tim lain tiba di pantai dengan nama yang berbeda, Brumbun dan satu tim lagi malah lebih hebat, tiba di Popoh. Alias kesasar!!!
Tribute to: Nila M A, Feni Lestari and mbak Tina
rute ini sering diulangi lagi oleh adik2 lo mas, dan hasilnya tetep sama. kesasar…heheh
halah, wong saiki embonge gede ngono.
numpak motor wae, cepet