Namanya juga jalan – jalan “mblakrak” hingga tebing – tebing curam di pantai selatan, tergores – gores boleh lah asal dikit aja. Kalo goresnya kebanyakan bisa tepar di tengah jalan kita. Saya punya goresan yang cukup berkesan dan bekasnya masih terlihat hingga kini. Terletak di perut kiri dengan bentuk hampir menyerupai pulau Sulawesi, tidak perlu ke tattoo artist bila anda ingin mendapatkannya. Waktunya pun hanya sebentar untuk membuatnya. Terpeleset dari tebing karang, itulah cara gambar itu sampai ke perut saya.
Luka ini saya dapat ketika menuruni tebing untuk menujua pantai Dlodo, waktunya persis seblum saya break makan apel bersama rekan saya. Waktu itu lereng yang kami turuni cukup curam dan tanaman perdunya cukup lebat, walaupun kecil ranting – rantingnya sangat menyulitkan untuk maju. Tidak jarang ransel pun ditinggal untuk memudahkan gerak saat menyeruak ranting, kemudian baru mengambil tas.
Mendekati bibir lereng, kemiringan sudah hampir mendekati 90º, kami berjalan melewati rute yang berbeda namun masih tetap bisa saling melihat posisi. Rekan saya sudah sampai sungai terlebih dahulu, tubuhnya yang lebih kurus dari saya serta matrasnya yang tidak terletak diluar tas membuatnya lebih mudah menghindari sergapan ranting pepohonan.
Ketika posisi pijakan sudah sangat miring, saya memutar badan dan berjalan mundur sambil berpegangan batang pohon. Biar lebih mudah, ransel yang gantungkan di bahu sebelah kanan, sehingga lebih mudah mengaturnya saat melewati hadangan dahan. Krak!!!! Suara patahan pohon mengejutkan saya, begitu cepat sehingga saya tidak bisa berpegangan pada pohon yang lain. Memang waktu itu tangan kiri saya berpegangan pada sebuh pohon, sedangkan tangan kanan mengatur posisi tas dan membelah ranting yang menutupi di belakang saya. Saya terjatuh menuruni tebing karang tersebut, hingga… hah berhenti.
Sebuah batang pohon sebesar betis menghentikan bungy jumping saya, namun kaki saya masih menggantung. Hanya tangan kanan saya tidak bisa bergerak, ketat sekali seperti terikat pada pohon tersebut. Saya menoleh keatas dan melihat bahwa batang tersebut memisahkan antara tubuh saya yang bergerak kekiri, sedangkan ransel saya kekanan. Ransel tersebut terkunci pada ranting – ranting pohon serta matrasnya seperti sebuah batang grendel melekat erat di sela – sela pepohonan. Jadi meskipun saya tergantung, posisi tas tersebut cukup kuat menahan bobot saya.
3 m dibawah saya adalah sungai Dlodo, “ gak popo kyi” teriak rekan saya yang sudah sampai duluan di sungai. Dari atas saya melihat, kedalamannya hanya setinggi lutut. Jadi tidak dalam rupanya, saya tidak mau membayangkan bila saya tidak tersangkut pohon ketika jatuh. Dengan tangan kiri yang bebas, saya bisa meraih batang yang terdekat dan mencari pijakan kaki yang cukup kuat untuk kembali ke atas guna melonggarkan posisi tas yang terjepit, sehingga saya bisa bebas. Setelah bebas, saya menuruni tebing karang melalu dahan – dahan pohon, tidak melalui tebing. Hup, saya melompat ke sungai setelah karak dahan terkhir yang saya pijak sekitar 1 m dari permukaan sungai.
Baru sekarang inilah saya merasakan panas dipermukaan tangan dan perut sebelah kiri. Oh ya, saya menggunakan tangan saya untuk menggapai apa saja, pantas aja panas kan jadi mirip rem. Saya angkat bagian bawah baju saya, tempaklah sebuah goresan – goresan warna merah di sana. Saya seka dengan air sungai untuk melihat seberapa dalam lukanya, ah ternyata hanya luka gores karena karang di atas tadi. Tapi harus segera dihentikan perdarahannya biar tidak mengganggu. Saya lihat ke atas lagi, untung ajaaaa tadi nggak nyampe bawah jatuhnya.
tribute to : Simbah Fuad yang lagi macul di Batam