Travelling membutuhkan kondisi fisik yang prima, apalagi bila kita termasuk penggemar petualangan alam terbuka. Dengan fisik yang oke punya, akan lebih mudah melakukan sebuah pemikiran analitis, dan pastinya akan membuat peluang anda selamat lebih tinggi.
Saya pernah melakukan perjalanan dari pantai Molang – pantai Sine berdua, dengan teman yang juga sama – sama tidak pernah melewati daerah ini. Hanya informasi dari rekan – rekan di Tulungagung bahwa Sine merupakan pantai pelabuhan pendaratan kapal nelayan yang besar selain Prigi dan Popoh. You’ll never know if you don’t try it hehehehehe.
Dengan peta topografi dan kompas, kami berdua berjalan dengan percaya diri sambil melakukan ploting sebagai cek poin. Rute pertama dari Molang sudah merupakan ujian fisik, seorang penduduk lokal dengan santainya bilang “namung munggah sepindah kok mas (hanya menanjak satu kali kok mas)” kata bapak tersebut sambil mengisap rokok klobotnya. Tak salah memang, karena sudah hampir 1 jam berjalan di tengah hutan jati masih belum ada juga jalan menurun.
Waduh, diawal hari aja udah pegel – pegel gini, mana masih jauh lagi. Mendekati puncak, pepohonan semakin jarang, kemudian keluarlah kami dari siksaan ini. Tanjakan habis, dan tampaklah jalan aspal, namun bukan itu rute kami. Arah menuju Sene berseberangan dengan arah jalan aspal tersebut, sebuah jalan setapak dengan beberapa rumah dikanan kirinya. Seorang ibu paruh baya berkata” oh… taksih tueeebihhh (oh.. masih juauuhh)” saat dia menanyakan tujuan kami kala melintas didepan rumahnya. Nahh..bener kan firasat saya. Tampang kami memang jauh dari penduduk lokal, bercelana lapangan, warna kaos ngejreng, ransel lengkap dengan matras membuat kami seperti alien ditengah – tengah lingkungan ini.
Makin ke barat, pepohonan makin rimbun dan tak ada rumah lagi. Hutan menyambut langkah kami ketika masuk tengah hari, pohon – pohon jati dipadu dengan perdu membuat kami sulit membuat cek poin. Makin jauh ke dalam hutan, jalan setapak yang mulanya tampak samar makin hilang, sinar mentari pun makin sedikit karena terhalang dedaunan yang cukup lebat. Di dalam hutan inilah saya menemukan sebuah sarang laba – laba dengan warna jaringnya kuning, laba – labanya pun sangat besar. Saya tidak sengaja melewati sarang ini tepat ditengahnya, si empunya rumah pun sempat singgah ke ransel sebelum disingkirkan oleh rekan saya.
Tidak lama kemudian kami mendapatkan ujian kembali, didepan kami terhampar sebuah tebing dengan kemiringan hampir 60º, tidak berbatu dan ditumbuhi pohon jati yang masih sebesar betis. Kami sempat memeriksa apakah ada jalan memutar, ternyata tidak ada. Jadi memang harus dipanjat, untung saja pohon jati kecil ini tidak protes saat kami bersandar padanya melepas lelah. Bukit ini ternyata pendek saja, cukup 30 menit berjalan kami sudah tiba di puncaknya dan yang membuat saya terkejut adalah ada jalan yang cukup lebar. Jalan makadam selebar 4 m. Saya lihat di peta, ohh.. ini rupanya jalan yang sering dibicarakan orang tua dulu sebagai jalan untuk membuang mayat PKI. Di kedua sisi jalan tersebut merupakan lereng yang cukup curam dengan pepohonan jati dan perdu dimana kami baru saja melewati salah satunya. Peta mengindikasikan bahwa di depan jalan ini pantai Dlodo, suara ombak yang terdengar cukup kuat menandakan jaraknya dekat sekali. Hanya ada 1 bukit yang menghalangi kami dari pantainya, hal ini membuat adrenalin kami terpompa. Kami mengira bahwa lereng di sisi jalan satunya akan terpotong ditengah, kemudian menanjak dan memutar bukit sebelum turun ke pantai. Dugaan kami salah, setelah menuruni lereng curam dengan perdu yang lebat, kami disambut sebuah sungai yang cukup lebar. Sial, saya lupa bahwa Kali Dlodo terletak persis sebelum pantai Dlodo, bagaimana saya bisa melewatkannya di peta. Sungai tersebut tidak dalam,saat kami turun memeriksanya namun mustahil pula untuk memanjat tebing bukit yang ada di depan. Saya berkata, kalau kita ikuti sungai ini pasti bermuara di pantai Dlodo, namun tebakan kami, sungai tersebut akan semakin dalam ketika mendekati pantai, belum lagi pertemuan arus sungai dan ombak laut yang membuatnya lebih berbahaya untuk dilewati.Tidak aman, kami pun kembali naik ke posisi awal dan mencoba jalur yang lain. Namun masih juga belum menemukan jalur yang aman. Hingga 3 kali naik turun lereng itu, hingga sebelum melakukannya yang ke empat, saya bilang “ leren disek, kesel (istirahat dulu, capek)”. Sambil duduk selonjor di tengah jalan makadam itu, saya mengambil 2 buah apel sebagai pengganjal perut kami siang itu. 10 menit kami duduk sambil makan, tiba – tiba kami melihat sebuah jalan setapak kecil diantar rerumputan membelah lereng itu. Bloody idiot!!! Saya berteriak dalam hati, bagaimana ini bisa tidak terlihat. Jalan tersebut merupakan jalan bagi penduduk sekitar untuk mencari kayu bakar di hutan, dan diujung jalan itu terdapat sumber air. Dari sumber air itu kami bisa melihat bibir pantai dan ombak besar laut selatan.
Sudah jam 2 siang, artinya 5 jam sudah kami berjalan dari molang tanpa henti kecuali makan apel di tengah jalan tadi. Dan hampir 2 jam kami habiskan naik turun lereng ini, sembari minum di sumber air ini langsung dari pancuran yang ada di dekat pohon saya berkata pada rekan saya “Mbah, mestine mau ngaso karo masak disik yo, mosok wis dibaleni ping pindo kok gak sadar ae” ( Mbah, mestinya kita tadi istirahat dulu sambil masak, udah boalk – balik 2 kali kok gak sadar juga). “Iyo kiy, mosok enek dalan kepenak kok yo ra ketok, wis kekeselen mau iku. Dadi gak iso mikir”. (Iya, masak ada jalan yang enak kok tidak ketahuan, tadi udah kecapekan. Jadi kurang bisa berpikir). Jadi bila anda seorang pegiat alam terbuka, pesen saya adalah selalu sempatkan istirahat dan makan, ingat tidak ada logika tanpa logistic!
Tribute to: Mbah Fuad yang sekarang lagi macul di Batam