Indahnya Indonesiaku 4# : Sebuah tattoo dari pantai selatan
Namanya juga jalan – jalan “mblakrak” hingga tebing – tebing curam di pantai selatan, tergores – gores boleh lah asal dikit aja. Kalo goresnya kebanyakan bisa tepar di tengah jalan kita. Saya punya goresan yang cukup berkesan dan bekasnya masih terlihat hingga kini. Terletak di perut kiri dengan bentuk hampir menyerupai pulau Sulawesi, tidak perlu ke tattoo artist bila anda ingin mendapatkannya. Waktunya pun hanya sebentar untuk membuatnya. Terpeleset dari tebing karang, itulah cara gambar itu sampai ke perut saya.
Luka ini saya dapat ketika menuruni tebing untuk menujua pantai Dlodo, waktunya persis seblum saya break makan apel bersama rekan saya. Waktu itu lereng yang kami turuni cukup curam dan tanaman perdunya cukup lebat, walaupun kecil ranting – rantingnya sangat menyulitkan untuk maju. Tidak jarang ransel pun ditinggal untuk memudahkan gerak saat menyeruak ranting, kemudian baru mengambil tas.
Mendekati bibir lereng, kemiringan sudah hampir mendekati 90º, kami berjalan melewati rute yang berbeda namun masih tetap bisa saling melihat posisi. Rekan saya sudah sampai sungai terlebih dahulu, tubuhnya yang lebih kurus dari saya serta matrasnya yang tidak terletak diluar tas membuatnya lebih mudah menghindari sergapan ranting pepohonan.
Ketika posisi pijakan sudah sangat miring, saya memutar badan dan berjalan mundur sambil berpegangan batang pohon. Biar lebih mudah, ransel yang gantungkan di bahu sebelah kanan, sehingga lebih mudah mengaturnya saat melewati hadangan dahan. Krak!!!! Suara patahan pohon mengejutkan saya, begitu cepat sehingga saya tidak bisa berpegangan pada pohon yang lain. Memang waktu itu tangan kiri saya berpegangan pada sebuh pohon, sedangkan tangan kanan mengatur posisi tas dan membelah ranting yang menutupi di belakang saya. Saya terjatuh menuruni tebing karang tersebut, hingga… hah berhenti.
Sebuah batang pohon sebesar betis menghentikan bungy jumping saya, namun kaki saya masih menggantung. Hanya tangan kanan saya tidak bisa bergerak, ketat sekali seperti terikat pada pohon tersebut. Saya menoleh keatas dan melihat bahwa batang tersebut memisahkan antara tubuh saya yang bergerak kekiri, sedangkan ransel saya kekanan. Ransel tersebut terkunci pada ranting – ranting pohon serta matrasnya seperti sebuah batang grendel melekat erat di sela – sela pepohonan. Jadi meskipun saya tergantung, posisi tas tersebut cukup kuat menahan bobot saya.
3 m dibawah saya adalah sungai Dlodo, “ gak popo kyi” teriak rekan saya yang sudah sampai duluan di sungai. Dari atas saya melihat, kedalamannya hanya setinggi lutut. Jadi tidak dalam rupanya, saya tidak mau membayangkan bila saya tidak tersangkut pohon ketika jatuh. Dengan tangan kiri yang bebas, saya bisa meraih batang yang terdekat dan mencari pijakan kaki yang cukup kuat untuk kembali ke atas guna melonggarkan posisi tas yang terjepit, sehingga saya bisa bebas. Setelah bebas, saya menuruni tebing karang melalu dahan – dahan pohon, tidak melalui tebing. Hup, saya melompat ke sungai setelah karak dahan terkhir yang saya pijak sekitar 1 m dari permukaan sungai.
Baru sekarang inilah saya merasakan panas dipermukaan tangan dan perut sebelah kiri. Oh ya, saya menggunakan tangan saya untuk menggapai apa saja, pantas aja panas kan jadi mirip rem. Saya angkat bagian bawah baju saya, tempaklah sebuah goresan – goresan warna merah di sana. Saya seka dengan air sungai untuk melihat seberapa dalam lukanya, ah ternyata hanya luka gores karena karang di atas tadi. Tapi harus segera dihentikan perdarahannya biar tidak mengganggu. Saya lihat ke atas lagi, untung ajaaaa tadi nggak nyampe bawah jatuhnya.
tribute to : Simbah Fuad yang lagi macul di Batam
Indahnya Indonesiaku 3# : Only hope keeps you walking
Sebuah harapan, kata yang ringan untuk diucapkan namun kekuatannya jangan diremehkan. Sekitar 10 tahun yang lalu, dalam sebuah achievement motivation training seseorang menunjukkan sebuah presentasi yang bercerita tentang 5 buah lilin yang masing – masing mewakili kondisi manusia. Dengan berjalannya waktu 4 lilin padam, lalu hanya tinggal 1 lilin yang diharamkan padam oleh motivator, itulah lilin harapan. Harapan inilah yang bisa membangkitkan semangat seseorang sehingga mampu untuk menyalakan 4 lilin yang lain.
Lilin inilah yang manjadi senjata kami saat menerobos sebuah bukit yang menjulang antara pantai Klatak dan pantai Nglarap. Rombongan kami saat itu lumayan besar, lebih dari 10 orang dan hampir separonya adalah cewek, jadi kecepatan dan akselerasi kami pun lambat. Saya yang ikut hanya sebgai peserta kurang resmi untuk numpang seneng jalan – jalan, terpaksa harus menghabiskan waktu jauh di belakang atau mengulur waktu berangkat, itupun bisa menyalip rombongan. Saya heran, ini jalan apa ngesot yak.
Setelah melewati pantai Nglarap, kami harus beristirahat untuk mengganti kaos kaki yang basah dan membilas baju yang kami pakai agar tidak lengket karena air garam. Sehabis makan dan sholat, kami melanjutkan perjalanan. Klatak harusnya sudah dekat, satu lengkungan bukit saja yang membatasi dengan posisi kami saat ini, sayangnya rute paling nyaman dan dekat yaitu menyusuri pantai tidak bisa dilakukan. Pesisir yang membentang di depan kami merupakan pantai cliff, bukan hamparan pasir yang ada dipinggirnya, namun tabing karang curam vertical yang berbatasan langsung dengan laut. Nekat merayap menyusurinya sama saja dengan cari mati, mana gelombangnya besar lagi.
Kondisi ini memaksa kami untuk melintasi bukit, menurut peta topografi yang kami bawa, jaraknya tidak lebih dari 2 km. Wah, sore sudah bisa sampe ini. Awalnya tidak ada tanjakan yang berarti, namun semakin lama kok tambah curam aja, belum lagi pepohonan tambah rapat. Bahkan, beberapa peserta harus mendaki tanpa menggendong ransel mereka, giman mau gendong ransel, bawa badan aja udah miring – miring. Saya sempat menarik beberapa tas ransel dengan menggunakan tali, jadi tas – tas tersebut sengaja ditinggal di bawah, kemudian saya mendaki dan mencari pohon untuk mengikat tali sekaligus pegangan. Tali tersebut yang saya pakai untuk menarik tas – tas itu, ternyata lebih berat daripada memanggulnya dipundak.
Langit sudah redup saat kami masih harus berkutat dengan evakuasi tas, tim survey pun bingung menentukan arah karena lebatnya vegetasi di bukit ini. Wah, parah juga nih yang survey. Saya lihat peta milik salah seorang kawan, tidak ada marking yang bisa dijadikan patokan dasar. saya hanya kira – kira saja posisi saat ini. “ Makde, belok kiri kayane wis tekan Klatak (makde, belok kiri sepertinya udah Klatak)”, begitu saya bilang pada salah seorang senior yang kebetulan ikut. “gak usah wis, tekan puncak disik ae ( Jangan, samapi puncak dulu)”, dia menjawabnya sambil terus berjalan.
Make sense, dari puncak kita bisa menentukan posisi jauh lebih baik dari pada di tengah belantara begini. Lewat magrib kami mencapai puncaknya, jarum jam di tangan saya menunjuk angka 6 dan 10. Gila gelap banget, pohonnya juga tinggi – tinggi sehingga kami juga sulit melihat kondisi dibawah. Hanya satu keinginan kami saat itu, jangan sampai menginap di bukit ini. Titik tidak ada koma!!! Have fun go mad, keluarakan parang tebas. Harus buat jalan sendiri untuk melintasi hutan kecil ini.
Startegi yang kita pakai adalah, 2 orang sebagai penebas jalan, bertugas untuk membuat jalan dan member kode jalan pada kelompok bila jalan tersebut bisa dilewati. Bila tidak bisa dilewati, maka kodenya adalah stop jalan. Hal ini untuk mencegah kebingungan bila seluruh kelompok harus jalan bolak – balik karena tidak bisa dilewati. Dan 2 orang sebagai sweeper di belakang kelompok untuk memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal. Saya yang termasuk senior menjadi sweeper. Ditengah perjalanan saya melihat sesosok putih menggantung di pohon, bercahaya seperti fosfor, jadi saya urungkan untuk berteriak ada kuntilanak, karena kain kafan tidak bisa berwarna putih kehijauan seperti itu, bercahaya lagi. Bentuknya bulat bergelung, seperti tali namun sebesar paha. “ yik, ojok omong arek – arek, ngko marai wedi malah ruwet ( Yik, jangan bilang anak – anak, kalo mereka takut bisa ruwet). Memang benar yang dikatakan rekan sweeper saya, dalam kondisi seperti ini, kekuatan mental, konsentrasi dan tidak mau menyerah jauh lebih penting dari kekuatan fisik. Sekali mental mereka drop, mengangkat ransel pun saya jamin mereka tidak kuat.
Belum juga berjalan 30 menit, “ ganti sing golek dalan, kesel ( ganti yang cari jalan, capek). Terpaksa kami berdua maju, karena tinggal kami berdua yang senior dan lebih kuat mental dari pada mereka yang junior. “Mas Puguh, sampeyan sweeper yo” kata saya kepada salah seorang senior untuk menggantikan posisi yang kami tinggalkan. Dengan parang kami tebas dan mencari jalan yang landai, tidak perduli nanti akan tiba dimana. Saya sadar, semakin lama informasi atau arah yang tidak pasti akan menghancurkan mental. Bila jalan tersebut landai, maka kami informasikan kelompok untuk maju. Dimalam inilah saya mengeluarkan darah yang cukup banyak, batang rotan yang saya tebas roboh tepat di atas tangan saya. Seperti imunisasi saja, begitu dicabut wuihhhh ternyata durinye gede, pantes darahnya banyak.
“Jam piro Kyi?” kata rekan penebas saya, “jam 8 bengi”, saya menjawab sambil tetap berjalan di kegelapan. Dari jauh saya melihat ada seberkas sinar lampu diantara dedaunan, itu pasti milik kapal nelayan. Pantai tidak jauh lagi, semakin semangat kami berjalan hingga sebuah belukar menutup semua pandangan. Terpaksa saya melakukan illegal logging, menghabisi belukar di depan saya. Ah ternyata cuman satu lapis aja, samar – samar terlihat sebuah lekukan di antara belukar dan tanaman perdu. Apakah itu jalan setapak?saya mengarahkan senter untuk melihat lebih jelas. Ya, sebuah jalan.
Semangat saya makin membuncah, tubuh saya seperti baru direcharge, sangat bertenaga. Inilah kekuatan harapan, harapan untuk segera keluar dari bukit ini. Samar – samar saya melihat lampu yang tadi saya lihat, wah berarti sudah dekat ini. Sedikit berlari saya lewati jalan tersebut beberapa meter untuk memastikannya lagi. Berkelok menurun diantara belukar, kali ini tidak mungkin salah lagi. “ jalan setapak”, saya berteriak kepada rombongan di belakang, kali ini tidak seperti yang sudah – sudah, jawaban yang terdengar menandakan semangat dan keceriaan, “ hah, beneran ta mas” atau “ akhirnya”. Ya, kita pasti segera keluar dari sini, saya mantap berkata dalam hati.
Makin mengikuti jalan ini, samar – samar terdengar suara aning menyalak dan suara lelaki yang sedang berbicara. Lampu kapal yang tadi hanya terlihat samar, sekarang seperti diarahkan kepada kami. Rupanya mereka mendengar keributan di bukit ini. Cahaya lampu tersebut seperti mencari – cari asal suara derap kaki kami, cahaya tersebut menyisir dimana kami berdiri. Namun kami yakin, mereka tidak akan bisa melihat kami dengan rerimbunan seperti ini. Hah jalan ini habis, sebuah tebing setinggi hampir 2 m menganga memotong jalan saya, tebing ini seperti hasil potongan pisau yang sangat besar karena saya tengok kanan kiri menunjukkan hal yang sama. Kalo bukan buatan manusia tidak mungkin bisa seperti ini. Saya arahkan pandangan ke depan, ternyata bukan kapal.
Seorang pemuda dengan senter berbatere 6 diarahakan kepada kami berdiri dengan ditemani anjingnya. Dia juga tidak berdiri di atas kapal, melainkan di sebuah tanah lapang. Saya meloncat turun untuk melihat keadaan sekaligus mengenalkan diri pada pemuda tersebut. Ternyat saya berdiri disebuah jalan tanah yang cukup lebar, inilah jalan lintas selatan yang ramai dibicarakan banyak orang tersebut.
“Klatak, taksih tebih?’ kami bertanya pada pemuda tersebut. “Wah sampeyan kebablasan mas” ternyata hanya terlewat 200 m, kami berjalan melalui jalan pemerintah tersebut untuk menyampainya. Saya menoleh kebelakang, melihat bukit yang baru saja kami lewati membentuk bayangan segitiga yang menghitam. Alhamdulillah, kita bisa keluar dari sana mala mini. Untunglah adik – adik kami yang baru ini tidak semuanya yang patah semangat dan memelihara harapan sehingga mampu berjalan selama itu dimedan sesulit itu. Jarum jam menunjukkan 9 malam lewat. Ahhh.. saya lapar sekali, belum pernah saya selapar ini sebelumnya.
Indahnya Indonesiaku 2# :
Travelling membutuhkan kondisi fisik yang prima, apalagi bila kita termasuk penggemar petualangan alam terbuka. Dengan fisik yang oke punya, akan lebih mudah melakukan sebuah pemikiran analitis, dan pastinya akan membuat peluang anda selamat lebih tinggi.
Saya pernah melakukan perjalanan dari pantai Molang – pantai Sine berdua, dengan teman yang juga sama – sama tidak pernah melewati daerah ini. Hanya informasi dari rekan – rekan di Tulungagung bahwa Sine merupakan pantai pelabuhan pendaratan kapal nelayan yang besar selain Prigi dan Popoh. You’ll never know if you don’t try it hehehehehe.
Dengan peta topografi dan kompas, kami berdua berjalan dengan percaya diri sambil melakukan ploting sebagai cek poin. Rute pertama dari Molang sudah merupakan ujian fisik, seorang penduduk lokal dengan santainya bilang “namung munggah sepindah kok mas (hanya menanjak satu kali kok mas)” kata bapak tersebut sambil mengisap rokok klobotnya. Tak salah memang, karena sudah hampir 1 jam berjalan di tengah hutan jati masih belum ada juga jalan menurun.
Waduh, diawal hari aja udah pegel – pegel gini, mana masih jauh lagi. Mendekati puncak, pepohonan semakin jarang, kemudian keluarlah kami dari siksaan ini. Tanjakan habis, dan tampaklah jalan aspal, namun bukan itu rute kami. Arah menuju Sene berseberangan dengan arah jalan aspal tersebut, sebuah jalan setapak dengan beberapa rumah dikanan kirinya. Seorang ibu paruh baya berkata” oh… taksih tueeebihhh (oh.. masih juauuhh)” saat dia menanyakan tujuan kami kala melintas didepan rumahnya. Nahh..bener kan firasat saya. Tampang kami memang jauh dari penduduk lokal, bercelana lapangan, warna kaos ngejreng, ransel lengkap dengan matras membuat kami seperti alien ditengah – tengah lingkungan ini.
Makin ke barat, pepohonan makin rimbun dan tak ada rumah lagi. Hutan menyambut langkah kami ketika masuk tengah hari, pohon – pohon jati dipadu dengan perdu membuat kami sulit membuat cek poin. Makin jauh ke dalam hutan, jalan setapak yang mulanya tampak samar makin hilang, sinar mentari pun makin sedikit karena terhalang dedaunan yang cukup lebat. Di dalam hutan inilah saya menemukan sebuah sarang laba – laba dengan warna jaringnya kuning, laba – labanya pun sangat besar. Saya tidak sengaja melewati sarang ini tepat ditengahnya, si empunya rumah pun sempat singgah ke ransel sebelum disingkirkan oleh rekan saya.
Tidak lama kemudian kami mendapatkan ujian kembali, didepan kami terhampar sebuah tebing dengan kemiringan hampir 60º, tidak berbatu dan ditumbuhi pohon jati yang masih sebesar betis. Kami sempat memeriksa apakah ada jalan memutar, ternyata tidak ada. Jadi memang harus dipanjat, untung saja pohon jati kecil ini tidak protes saat kami bersandar padanya melepas lelah. Bukit ini ternyata pendek saja, cukup 30 menit berjalan kami sudah tiba di puncaknya dan yang membuat saya terkejut adalah ada jalan yang cukup lebar. Jalan makadam selebar 4 m. Saya lihat di peta, ohh.. ini rupanya jalan yang sering dibicarakan orang tua dulu sebagai jalan untuk membuang mayat PKI. Di kedua sisi jalan tersebut merupakan lereng yang cukup curam dengan pepohonan jati dan perdu dimana kami baru saja melewati salah satunya. Peta mengindikasikan bahwa di depan jalan ini pantai Dlodo, suara ombak yang terdengar cukup kuat menandakan jaraknya dekat sekali. Hanya ada 1 bukit yang menghalangi kami dari pantainya, hal ini membuat adrenalin kami terpompa. Kami mengira bahwa lereng di sisi jalan satunya akan terpotong ditengah, kemudian menanjak dan memutar bukit sebelum turun ke pantai. Dugaan kami salah, setelah menuruni lereng curam dengan perdu yang lebat, kami disambut sebuah sungai yang cukup lebar. Sial, saya lupa bahwa Kali Dlodo terletak persis sebelum pantai Dlodo, bagaimana saya bisa melewatkannya di peta. Sungai tersebut tidak dalam,saat kami turun memeriksanya namun mustahil pula untuk memanjat tebing bukit yang ada di depan. Saya berkata, kalau kita ikuti sungai ini pasti bermuara di pantai Dlodo, namun tebakan kami, sungai tersebut akan semakin dalam ketika mendekati pantai, belum lagi pertemuan arus sungai dan ombak laut yang membuatnya lebih berbahaya untuk dilewati.Tidak aman, kami pun kembali naik ke posisi awal dan mencoba jalur yang lain. Namun masih juga belum menemukan jalur yang aman. Hingga 3 kali naik turun lereng itu, hingga sebelum melakukannya yang ke empat, saya bilang “ leren disek, kesel (istirahat dulu, capek)”. Sambil duduk selonjor di tengah jalan makadam itu, saya mengambil 2 buah apel sebagai pengganjal perut kami siang itu. 10 menit kami duduk sambil makan, tiba – tiba kami melihat sebuah jalan setapak kecil diantar rerumputan membelah lereng itu. Bloody idiot!!! Saya berteriak dalam hati, bagaimana ini bisa tidak terlihat. Jalan tersebut merupakan jalan bagi penduduk sekitar untuk mencari kayu bakar di hutan, dan diujung jalan itu terdapat sumber air. Dari sumber air itu kami bisa melihat bibir pantai dan ombak besar laut selatan.
Sudah jam 2 siang, artinya 5 jam sudah kami berjalan dari molang tanpa henti kecuali makan apel di tengah jalan tadi. Dan hampir 2 jam kami habiskan naik turun lereng ini, sembari minum di sumber air ini langsung dari pancuran yang ada di dekat pohon saya berkata pada rekan saya “Mbah, mestine mau ngaso karo masak disik yo, mosok wis dibaleni ping pindo kok gak sadar ae” ( Mbah, mestinya kita tadi istirahat dulu sambil masak, udah boalk – balik 2 kali kok gak sadar juga). “Iyo kiy, mosok enek dalan kepenak kok yo ra ketok, wis kekeselen mau iku. Dadi gak iso mikir”. (Iya, masak ada jalan yang enak kok tidak ketahuan, tadi udah kecapekan. Jadi kurang bisa berpikir). Jadi bila anda seorang pegiat alam terbuka, pesen saya adalah selalu sempatkan istirahat dan makan, ingat tidak ada logika tanpa logistic!
Tribute to: Mbah Fuad yang sekarang lagi macul di Batam
Indahnya Indonesiaku : session 1#
Saya termasuk sedikit orang yang beruntung karena bisa menikmati bepergian, bahkan dengan jarak yang cukup jauh. Semua cara travelling pernah saya lakukan, berjalan kaki, “terpaksa berenang”, berdesakan dalam bus atau kereta ekonomi, hingga menikmati kenyamanan kursi business class dalam penerbangan ke eropa pun pernah saya rasakan. Hingga tadi malam,,saat seorang teman meminta untuk menuliskan pengalaman travelling saya yang paling ekstrem, bingunglah saya jadinya …. Waduh kok angle banget ya, karena hampir semua perjalanan yang saya lakukan menurut saya ekstrem. Dari merasakan keramahan warga kampung yang memberikan kami jagung satu karung saat kami hanya minta lima biji saja, minum air payau karena tidak menemukan air tawar hingga melarikan diri tengah malam dari kejaran para pemabuk yang mau malak saat di Inggris.
Tipuan mata yang sempurna
Perjalanan lintas medan menyusuri pantai merupakan lokasi yang cocok bagi mereka yang ingin belajar ilmu medan dan peta kompas. Garis pantai dengan teluk – teluknya membuat kita lebih mudah untuk menentukan posisi secara kasar. Saya pernah berlatih peta kompas di daerah selatan wilayah Tulungagung. Berangkat dari Besole sebagai poin pertama menuju pantai Gerangan. Saya bertanggung jawab untuk menentukan arah perjalanan sesuai dengan koordinat yang telah diberikan, bila salah menentukan besar derajat bidikan kompas, maka satu tim pasti ikut mencari jalan yang berbeda. Alias kesasar berjamaah hehehehe… enaknya jadi penentu nasib orang banyak.
Besole merupakan sentra industry batu marmer, hal ini didukung oleh banyaknya pegunungan kapur yang menjulang disekitarnya. Setelah memperoleh koordinat sasaran, kami membuat plotnya di peta topografi. Saya berkata “ harus naik ke bukit sebelah untuk mendapatkan bidikan yang pas”. Dari situ pemandangannya luar biasa, kontur tanahnya yang berbukit – bukit dengan rerumputan menghijau membuat saya berkata dalam hati “ Hmm pantesan Belanda betah banget disini, sialan juga meneer – meneer itu”. Orang boleh bilang padang rumput new Zealand atau Scotland sangat indah layaknya negeri dongeng, tapi yakinlah anda semua tidak akan mampu berdiri dengan nyamannya sembari menikmati sinar mentari dan belaian angin sejuk seperti yang sedang saya nikmati di pucuk bukit kecil ini. Perjalanan hingga menyeberangi lembah dan bukit didepan tidak ada masalah, karena saya didukung dengan pioneer yang luar biasa hebat dan cekatan. Walaupun dia seorang cewek berjilbab!
Metode yang saya pakai adalah menentukan sebuah obyek sejauh yang bisa saya lihat sesuai dengan derajat kompas, kemudian pioneer akan berjalan ke obyek sambil member kode apakah sudah sesuai dengan arah bidikan. Hingga samapilah pada dataran yang tertinggi di daerah tersebut. Tinggal jalan menurun yang terbentang di depan, Rumput berganti dengan ilalang menghampar di depan, nun di kejauhan terlihat hutan jati yang lebat. Berarti tinggal sedikit lagi sudah mencapai pantai. Masalah timbul disini, dengan ilalang yang lebih tinggi dari tubuh menyulitkan untuk membuat sebuah marking. Karena bentuk semua ilalang yang mirip dan orang tak akan terlihat ditengah rimbunnya ilalang tersebut.
Akhirnya saya putuskan untuk mengambil sebuah landmark yang terlihat kontras dengan warna hijau ilalang. Sebuah pohon palem (belakangan baru saya tahu bahwa itu adalah pohon Siwalan hehehe) di ujung dataran dibawah saya, persisi sebelum masuk hutan Jati. “Beneran? Gak terlalu jauh bidikannya” kata pioneer saya. Benar juga katanya, tapi tidak ada marking yang jelas tatkala pandangan terhalang oleh ilalang selain pohon palem itu. Dengan setengah berlari kami menuruni lereng landai tersebut, semakin lama jalan yang ada terhalang oleh ilalang dan ranting pohon perdu. Tapi sasaran kami jelas, cari pohon palem!!! Karena pohon itu yang berbeda dari sekian ribu tanaman di dataran ini. Keluar dari lilitan ilalang, kami sampai pada sebuah lahan kosong yang hanya ditumbuhi tanaman perdu setinggi lutut. Banyak bekas penebangan kayu disini, termasuk beberapa batang palem roboh. “Ehh, ada bekas pohon palem ditebang?ada berapa banyak pohon palem sebenarnya?” saya berkata dalam hati.
Ketakutan saya akhirnya terbukti, satu palem yang terlihat dari puncak bukit tadi ternyata terdiri dari berpuluh palem yang tertanam di area yang cukup luas. “Hmmm mati koen, palemnya banyak!!” kata teman – temana saya ketika sampai pada titik tersebut. Waahhhh… ini sih diluar perhitungan, karena tadi yang terlihat hanya satu palem. Saya baru sadar bahwa saya membidik palem – palem ini dari puncak bukit dimana ketika saya menolehnya terlihat amat jauh di belakang sana.
Saya berspekulasi ambil pohon palem yang ada ditengah sebagai titik bidik. Benar atau tidak itu urusan belakangan, yang jelas harus ada titik tolak yang harus dipakai. Paling tidak pohon palem di tengah – tengah bisa mewakili dengan seimbang bila ternyata poin bidikan yang terlihat dari bukit itu terletak dipinggir hehhehehehehe. Karena ini pula perjalanan kami molor hingga 3 jam dari waktu yang direncanakan karena harus mengatur ulang koordinat karena pergeseran titik bidik. Kesasar?? Pastilah, namun paling tidak sampai juga di pantai Gerangan sebagi tim pertama, karena dua tim lain tiba di pantai dengan nama yang berbeda, Brumbun dan satu tim lagi malah lebih hebat, tiba di Popoh. Alias kesasar!!!
Tribute to: Nila M A, Feni Lestari and mbak Tina
tinggalkan komentar