Ditrakurniawan’s Weblog

WELIRANG

Posted by: ditrakurniawan on: April 25, 2009


Kabut tipis menyelimuti padang rumput, mengiringi sang bayu meniup seruling syahdu tembang cinta Sang Maha Pencipta…..

losari3


Hehehehe kayaknya sudah lama banget deh pergi jalan – jalan ke Welirang, hampir 5 th yang lalu deh. Tapi nggak ada salahnya kan kalo ditulis sekarang, sempetnya lagi sekarang soalnya (ngeles coy..).

Gn. Welirang approx. 3165 dpl, uhmmm nama puncaknya ga tau apa, gpp kan. Perjalanan ke welirang bertepatan dengan acara Pendidikan Instruktur Muda (PIM 2004 ) Kwarda Jatim, sebenera bukan bertepatan tapi emang sengaja kok rutenya PIM pendakian ke sini. Rute pendakian Welirang yang banyak dipakai oleh pendaki biasanya melalui jalur pandaan, namun untuk PIM kali ini rute yang diambil melalui Pacet – Mojokerto. Jalur yang sangat tidak umum untuk pendakian karena memang tidak ada jalur pendakian untuk ke Welirang yang melewati Pacet ( yang resmi). Kalo lewat jalur Pandaan ada pos pantau pendakian, jadi setiap pendaki yang mau ke welirang harus lapor. Jalur di Mojokerto adalah jalur para pencari belerang yang sumbernya berada di puncak Welirang serta para pencari kayu disekitar lereng Welirang.

Firts day..

Pendakian dengan misi pelatihan emang beda ama jalan – jalan gembira, dengan membawa rombongan 65 orang, perjalanan terasa lama. Kalo biasanya sehari udah sampe puncak, tapi nggak bisa gitu saat PIM. Perjalanan dimulai hari Jum’at sekitar pk. 14.00 dari banteng mati, sebuah kawasan hutan pinus milik Perhutani yang letaknya tepat dibawah kaki Gn. Pundak. Dari banteng mati melewati area pembibitan miliki dinas kehutanan, dibutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk mencapai pos 1, yaitu di Pengilen. Disebut pengilen karena merupakan lokasi sumber air yang mangairi (ngileni ; jawa ) kebutuhan air bersih bagi penduduk di wilayah Celaket. Jumlah rombongan yang besar membuat perjalan tidak bisa cepat, jalur yang dilewati merupakan jalan setapak yang biasa dipakai oleh para pencari kayu (rencek) di hutan welirang. Tanaman perdu rapat menutup kanan kiri jalan dengan dihiasi oleh alang – alang setinggi 1 m. Di jalur ini banyak ditemui sumber air bersih,apalagi setelah dibangun jalur pipa air yang mengalirkan air dari pengilen. Tinggal buka ja tutup tandaon yang berfungsi sebagai penahan laju air, trus ambil deh airnya. Atau kalo naik lewat sisi timur (pas sebelah gn. Pundak ) perjalana bisa dimulai dari tepi sungai. Tenang aja sungainya ada airnya kok, jadi bukan sungai kering. Tapi harus hati – hati ama pacet yang banyak terdapat di daerah sini. Apalagi kalo tidak banyak diam, tau – tau si pacet udah nempel aja di kaki. Yah… namanya juga daerah pacet, pastilah tuan rumahnya ya pacet sendiri, masak kura – kura.

Pengilen boleh dikatakan lokasi sumber air terbesar di pacet, pohon – pohon besar khas penyimpan air macam beringin, bulu banyak terdapat disini. Dikelilingi rumpun bambu yang tumbuh subur disitu, jadi kelihatan tambah asri aja. Oh iya selain mencari rencek penduduk di wilayah celaket juga mencari rebung di daerah sini. Kita sampai pengilen menjelang magrib, jadi pas deh waktunya buat camp. Tapi kita nggak bawa tenda, semuanya, baik peserta maupun fasilitator. Jadi tidurnya bikin bivouck, trus masuk sleeping bag bagi yang punya. Nah bagi yang nggak punya??? Yup that’s me. Cuman bawa matras merk eiger ( hehehe padahal sekarang aku distributor Avtech ) yang sekarang ntah kemana ( ta taruh sanggar pramuka ITS… ilang ternyata) plus jaket tebel sebagai perlengkapan merem ternyata masih kedinginan. Biar ga dingin tidurnya deketan ama api unggun. He..he.. berhasil, nggak kedinginan malam itu.

Esok pagi sekitar pukul 7, perjalanan panjang dimulai, keluar dari pengilen yang rimbun dengan pepohanan besar dan rumpun bambunya yang asri, terhampar padang ilalang hijau kekuningan menyambut. Wow keren…. dataran hijau dengan langit biru terpadu warna emas mentari pagi di lereng welirang. Subhanallah. Perjalanan menuju pos 2 dari pengilen sebenernya gak terlalu jauh, kira – kira 1500 m, cuman vertikal hehehehehehehe. Dengan hanya ilalang yang tumbuh, mudah untuk mengawasi rekan – rekan lain, tidak ada halangan pepohonan. Setelah berjalan sekitar 1 jam, tumbuhan ilalang mulai mendapat teman pohon cemara, makin lama makin banyak pohonnya. Trus jalurnya makin lama miringnya makin curam, jadi tambah berat aja jalan ke atas. Menjelang siang, kabut mulai menyelimuti lerang welirang, tapi tambah bagus pemandangannya. Pohon cemara bertinggi 2 m dengan paduan ilalang dan kabut. Wuihh.. keren loh. Hutan dilereng welirang dan arjuno merupakan kawasan hutan lindung, dilereng welirang nama resminya “ Alas Lindungan Lali Jiwo sisi timur”. Di jalur ini kita juga menjumpai sebuah makam dengan batu gunung sebagai nisan, ga tau juga maka siapa itu. Bisa jadi makam pendekar atau pertapa kuno hehehehehehe. Sore hari kita sampe juga di pos 2 kita, Pomahan.

Pomahan terletak kurang lebih 2200 dpl, sebuah tanah lapang yang cukup untuk 10 tenda, dengan lereng curam di sebelah kanan dengan rerimbunan edelweis di lereng – lereng tersebut. Cantik bukan. Sumber air juga ada kok disini, cuman butuh perjuangan lebih. Sumber air terletak di dasar lereng, jadi perjalanan yang dibutuhkan lebih jauh dan lebih sulit. Perlu wktu 30 menit untuk mengambil air dan kembali ke loaksi perkemahan. Saat di Pomahan, guyonan yang paling ngetrend adalah “ Wah aku ga butuh uang mas, sampeyan mau ta kasih IDR 5000 buat ngambilin air?” .

Suasana malam di Pomahan lebih dahsyat, untung aja langit malam itu cerah, bintang – bintang seperti ditaburkan, terang banget cahayanya. Asli.. keren banget, susah mau ceritanya, pokoknya bagus banget. Jaraknya kayak deket aja loh tu bintang. What a wonderful world I can say. Subhanallah

Dari pomahan harusnya Cuma butuh 2 jam untuk sampe ke puncak welirang, tapi tidak untuk hari ini. Hari ke – 3 di Welirang atau hari ke – 5 dalam seluruh rangkain PIM 2004 rupanya membuat energi peserta habis. Berangkat meninggalkan perkemahan jam 8 pagi, perjalanan sangat lambat. Semakin jauh meninggalkan Pomahan, pepohonan cemara mulai habis dan digantikan oleh tanaman perdu. Penduduk lokal menyebutnya manis rejo. Pohonnya pendek, berbuah seperti buah salam dan berwarna merah. Rasanya manis dan bisa dibuat penambah stamina. Mendekati puncak welirang, tidak ada tumbuhan. Hanya batu dan pasir yang tidak stabil dan mudah longsor.

Tiba dipuncak welirang pada tengah hari, dan cuaca sangat cerah. Kawah Welirang yang cekung dengan belerang berwarna kuning mengepulkan asap. Bila ingin mengambil belerang, kita harus turun ke dasar kawah. Dari puncak welirang kita bisa melihat puncak gn. Arjuno yang bersebelahan, gn. Semeru di sebelah selatan dan gn. Penanggungan ada dibawah kita. Wow…

Tinggalkan Balasan


  • ditrakurniawan: bos, diesel engine memiliki karatkteristik operasi yang berbeda ( biasanya diberikan rating ), nah pengoperasian diesel yang tidak sesuai dengan ratin
  • sulkhan akbar: baru nemu blog's ini... suwun infonya
  • Didik: Nice info bro.. cuman saya mau tanya nich... mesin diesel kalau dioperasikan secara start-stop, brp sich batasan waktu oeprasi yang optimal? trus gima