Posted by: ditrakurniawan on: Maret 18, 2009
Temperatur diesel yang panas adalah hal yang biasa, namun menjadi tidak biasa manakala temperaturnya menjadi sangat panas. Diesel engine memiliki temperatur memiliki temperatur yang cukup panas, exhaust gas yang dihasilkan mencapai suhu kisaran 500 degC. Namun bagaimanapun juga, diesel memiliki batasan temperatur untuk membuatnya bekerja secara optimal. Cukup banyak kejadian yang mengisahkan bagiamana diesel mengalami panas yang berlebihan ( overheating ) saat beroperasi, padahal engine tersebut memiliki hasil yang baik saat dilakukan dyno test, Why ? so many reason for it.
Marine operation
Sampai detik ini, diesel masih menjadi favorit sebagai motor utama penggerak kapal. Efisiensinya yang tinggi menjadi hal terbaik diantara engine – engine yang lain. Sebagai penggerak utama kapal, marine diesel engine diinstal dalam kondisi kamar mesin kapal yang cukup sempit dengan suhu yang panas. Kondisi ini membuat marine engine memiliki sistem pendingin yang memanfaatkan air laut sebagi media penukar panas. Penukar panas yang mengandalkan air laut sebagai media penukarnya banyak diaplikasikan di kapal. Untuk menjadikan sistem ini bekerja optimal, perencanaan pipa serta keterjaminan aliran air laut yang melewati penukar panas menjadi hal yang kritis. Coolant yang terdapat dalam engine akan memindahkan panas pada saat melalui penukar panas. Panas tersebut akan dipindahkan ke air laut yang melewati pipa – pipa penukar panas, sehingga temperatur coolant yang bersirkulasi dalam engine akan turun. Kemampuan sistem pendingin dalam mengontrol temperatur engine sangat menentukan kinerja engine. Temperatur coolant yang terlalu tinggi membuatnya tidak mampu menurunkan suhu engine sesuai dengan temperatur optimalnya untuk beroperasi.
Overheating Sering terjadi debat kusir antara engine manufacturer dengan user, dimana hasil dyno test menjadi dasar debat tersebut. Dyno test dilakukan dalam kondisi lingkungan yang ideal, maka dari engine akan bekerja dengan optimum. Hasil dyno test akan sedikit banyak berubah ketika engine diinstal, kondisi lingkungan operasi yang tidak se-ideal kondisi lingkangn shop sedikit banyak mempengaruhi performa engine. OverheatingI menjadi salah satu faktor engine yang disorot, saat engine mengalami hal ini maka dapat dipastikan peforma engine tidak akan mencapai optimal. Dalam marine operation khususnya untuk engine yang digunakan sebagai penggerak utama kapal, overheating memiliki banyak faktor penyebab, antara lain :
• Cooling system
Paling pertama yang mencuri perhatian adalah sistem pendingin, seperti kita ketahui bahwa sistem pendingin marine engine sebagai penggerak utama kapal bergantung pada sistem pendingin air lautnya. Apabila aliran air laut ke penukar panas tidak lancar, bisa dipastikan panas yang dibawa coolant tidak bisa dibuang dengan baik karena media yang menjadi perpindahan panasnya tidak tersedia dengan cukup. Dengan begitu coolant tidak bisa menurunkan suhu engine. Untuk memastikan ketersediaan air laut sebagai media pendingin, pompa harus dipastikan bekerja sesuai dengan kapasiatasnya, tidak terdapat hambatan sepanjang pipa. Hambatan yang terdapat dalam sistem pendingin air laut terkadang merupakan kelalaian – kelalain, seperti majun yang tertinggal saat melakukan servis.
• Heat exchannger
Sistem pendingin tidak terlepas dari kinerja penukar panas, kerak yang timbul pada permukaan pipa – pipanya membuatnya kehilangan kemampuan untuk menghantarkan panas. Perlu diperiksa apakah penukar panas yang ada sudah dibersihkan dengan benar. Penukar panas yang tidak mampu bekerja secara optimal membuat temperatur coolant tidak cukup rendah untuk untuk menurunkan suhu engine.
• Air circulating system
Sirkulasi udara dalam kamar mesin harus menjamin kecukupan udara bagi engine untuk melakukan pembakaran. Desain air system yang baik harus mampu menjaga suhu kamar mesin maksimal 9 deg C dari ambient temperature yang diukur dari temperatur suhu udara di sekitar kapal. Maksimum suhu udara kamar mesin yang memungkinkan engine bekerja secara maksimum adalah 49 Deg C. Suhu yang panas membuat udara dalam kamar mesin menjadi tipis dan renggang. Udara yang renggang ini dihisap oleh engine untuk digunakan dalam proses pembakaran. Dalam proses ini, massa udara ( O2) menjadi faktor terpenting selain bahan bakar. Dalam udara yang panas, volume udara menjadi besar karena kerenggangan molekulnya, namun kerapatannya rendah sehingga massa yang dikandungnya kecil. Akibatnya, tidak cukup udara (O2) untuk membakar habis bahan bakar yang ada dalam silinder ( pembakaran tidak sempurna). Sisa bahan bakar ini ikut terbawa ke exhaust manifold dan terbakar disana sehingga suhunya meningkat. Engine yang mengalami overheating pada umumnya mengalami black smoke
Maret 30, 2009 pada 12:37 pm
Nice info bro.. cuman saya mau tanya nich… mesin diesel kalau dioperasikan secara start-stop, brp sich batasan waktu oeprasi yang optimal? trus gimana dengan life cycle materialnya jika operasi non stop dengan start stop? tks…
April 3, 2009 pada 4:17 am
bos, diesel engine memiliki karatkteristik operasi yang berbeda ( biasanya diberikan rating ), nah pengoperasian diesel yang tidak sesuai dengan ratingnya bisa memperpendek umur engine, kemungkinan besar breakdown bisa terjadi. Kalo sampe berapa running hrs, wah itu tergantung dari kondisi operasi ma maintenance.