Posted by: ditrakurniawan on: April 28, 2008
Sebelumnya mohon maaf kepada para pirsawan/ti diseluruh dunia maupun yang ada di alam ghaib, karena kesibukan “macul” yang makin hari makin ruwet dan repot, jadinya ga bisa sering2 up date deh blognya. Aduh sampe mana dulu ya scout project yang pertama? Do’ sampe building konsensus ya. Berarti fase pertam udah selesai.
Fase ke-2 bisa jadi (ini menurut saya) adalah fase yang bikin pusing kepala, terutama bagi pembina kalo di level satuan penggalang dan bagi anggota dewan di racana maupun ambalan. Coba judulnya aja udah bikin ngeri “MENGINTEGRASIKAN KESEMPATAN BELAJAR”
Sebenarnya dalam melaksanakan kegiatan itu sendiri -mulai awal sampe akhir, bahkan yang ngikut dari tengah2, yang rajin atao yang males2an- pelajaran yang terkandung sudah bisa di peroleh. Tapi yang jadi perhatian disini adalah, tiap kegiatan pasti ada tujuannya, manfaatnya serta ilmu spesifik yang terkandung didalamnya, nah ntu dia, kalo orang2 pas waktu nyusun nggak membuat penjabaran yang jelas tentang pelajaran apa yang bisa diambil saat langkah kegiatan apa, gimana bisa tercapai iya ga? jelas iya dunk wong nulis2 sendiri, ya di jawab2 sendiri hehehehhehehe. Nah caranya giman biar ga terjadi disintegrasi? kayak kuliah pancasila ya,hehe kalo inget Pancasila jadi inget 4 tahun lalu” kamu itu lho, anggota dkd kuliah Pancasila kok nilainya tiiiiiitttttttttt” hueheuehuehue. Ada 5 langkah yang bisa dilakukan – uhmmmm.. lebih juga boleh kalo sesuai
Langkah 1: Penilaian kesulitan
Kesulitan bagi tiap orang adalah relatif terhadap kondisi lingkungan serta kemapuan orang tersebut, bisa kita bilang busyet susah banget…eh temen kita tanpa merasa berdosa bilang, susah gigi loe gendut, orang gampang gini kok. Nah kacau kan. Dalam penentuan kegiatan pramuka, kesulitan yang akan diambil merupakan pertimbangan atas kondisi serta kemampuan kelompok, is not by the weakest nor the strongest. JUga kesulitan dukungan logistik, pendanaan serta skill yang dibutuhkan untuk mengadakan kegiatan tersebut. Bila terjadi kekurangan dukungan hal2 di atas, enaknya diapakan? ga jadi kegiatan? ya nggak lah, modifikasi aja kegiatan tersebut, sesuaikan dengan kondisi kelompok serta dukungan yang ada. Dalam hal keahlian? tidak perlu menjadi ahli dalam segala hal, cukup temukan seorang yang berkompeten untuk mengawasi jalannya kegiatan dan memastikannya aman. Ingat safety first.
Langkah 2 :Membuat outline kegiatan
Apakah outline kegiatan? apakah sama dengan jadwal acara? secara sepintas sama, bisa dikatakan jadwal adalah hasil evolosi outline kegiatan – emang Darwin aja yang bisa bikin teori evolosi.
Trus gimana bentuk outline kegiatan yang bener? Tidak ada bentuk baku dalam hal ini, inti dari outline kegiatan adalah isi serta gambaran mengenai kegiatan apa saja yang ada dalam akitifitas tersebut, serta gambaran umum kondisi keseluruhan kegiatan, dukungan kegiatan yang ada. Bisa juga dibuat suatu sketsa, gambar dengan kata2 kunci tentang kegiatan yang ada dalam aktifitas kita. Waduh contohnya kok ga bisa di pasang ya… maaf2 besok dicoba lagi deh, ntar minta tolong ama yang pinteran internet hehehe
Langkah 3 : Mencari kesempatan belajar
Buatlah catatan tentang kesempatan belajar yang dapat diberikan oleh kegiatan, inget sodara2 sebangsa tanah dan sebangsa air ( sebangsa dan setanah air), diberikan oleh kegiatan, bukan instruktur, bukan pembina bukan pula peltaih, tapi gimana caranya kegiatan ini memberikan kesempatan belajar bagi mereka yang ikut kegiatan. Contohnya kira2 gini,
Kegiatan PETA KOMPAS
yang harus dilakukan adalah: menentukan arah dengan kompas, menentukan koordinat di peta, menentukan posisi kita di peta dan posisi sesungguhnya
Kesempatan belajar yang ada – dilihat dari kerangka berpikir pendidikan : berpikir analis, membandingkan teori dengan prkatek, berlatih teliti dan telaten, memahami kondisi sekitar.
Nah, sekarang tugas kita gimana caranya mengkondisikan kegiatan tersebut supaya peserta bisa mendapatkan kesempatan belajar sesuai dengan rancangan itu, padahal dalam kegaitan tersebut ada peserta yang harus belajar memegang kompas dulu karena belum pernah, atau bahkan ada yang perlu beberapa orang untuk membantunya.
Langkah 4 : Penggunaan secara penuh metode pramuka
Waduh ini materinya berat banget, seharusnya ini bagiane K Singgih. Suatu kegiatan bisa dikatkan kegiatan pramuka jika menggunakan metode pramuka dalam pelaksanaannya. Sebuah tantangan yang cukup menarik bagi kita bagaiman kita menerapkan sistem beregu dalam kegiatan lomba teknologi, bagaimana kita menerapkan learning by doing saat pendakian gunung atau bagiamana dengan outdoor activity saat kita mengadakan lomba cerdas cermat hehehehehhehe….bingung kan. Untuk bisa mengaplikasikan metode ini dengan benar, harus dipahami maksud serta jiwa yang terkandung dalam metode2 tersebut. Untuk lebih jelasnya uhmmm… ada baiknya anda semua membaca bukunya WOSM berjudul ” SCOUTING AS AN EDUCATIONAL SYSTEM” soalnya kalo mau ditulis disini, buanyak, capek deh.. trus yang paling penting ga patio ngerti hehhehehe
Langkah 5 : Penggunaan secara maksimal dinamisasi
Dalam pramuka dinamisasi merupakan 4 aspek yang dilakukan, baik sadar ataupun tidak sadar-kebanyaken se ngga sadar gitu kalo udah nerapin. 4 Aspek yang terkandung di dalamnya adalah :
Inget kan bahwa kegiatan merupakan sarana untuk mencapai tujuan pramuaka, yakni mendidik. Tuh kan ga jauh2 dari pendidikan, semua tujuan kegiatan pramuka bersifat mendidik.
Ini menyangkut semua hal yang dikerjakan, mulai dari merencankan, melaksanakan, evaluasi sampe nyungsep2nya pun merupakan dinamika pendidikan kaum muda.
Bisakah anda bayangkan berkegiatan tanpa menyusun suatu struktur serta pembagian fungsi yang jelas antar tiap bidang ataupun orang? hehehehehe yang ada berantem ga jadi kegiatan, karena akan berlaku hukum semena2
Sadar ataupun enggak, dalam berkegiatan kita diibaratkan hidup dalam suatu masyarakat dimana disitu terdapat aturan, norma serta tanggung jawab dan kewajiban yang dibebankan kepada setiap orang yang berada dalam kelompok tersebut. Ketidak patuhan terhadapa norma yang telah disepakati akan menimbulkan ketidakharmonisan dalam kelompok tersebut.
Nah bila bisa dinamika yang ada bisa difungsikan secara optimal, kayaknya bakal keren deh orang2 yang ikut dalam kegiatan tersebut. Kegiatannya mungkin simpel2 aja, namun kesempatan belajar serta pengetahuan yang di peroleh…… it’s worthy.